:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Hindu-Budha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajaan Hindu-Budha. Tampilkan semua postingan

 

           Menurut  berita  Cina  di sebelah  timur  Kerajaan  Kaling ada daerah  Po-li atau  Dwa-pa-tan  yang dapat  disamakan  dengan Bali. Adat istiadat  di Dwa-pa-tan  sama  dengan kebiasaan  orang-orang Kaling. Misalnya, penduduk biasa  menulisi daun  lontar.  Bila ada orang  meninggal,   mayatnya  dihiasi dengan emas  dan  ke  dalam mulutnya dimasukkan  sepotong emas, serta diberi bau-bauan yang harum.  Kemudian mayat itu dibakar. Hal itu menandakan Bali telah berkembang. Dalam  sejarah  Bali, nama  Buleleng  mulai  terkenal   setelah periode  kekuasaan Majapahit. Pada waktu  di Jawa  berkembang kerajaan-kerajaan Islam, di Bali juga berkembang sejumlah kerajaan. Misalnya Kerajaan Gelgel, Klungkung,  dan Buleleng yang didirikan oleh  I Gusti Ngurak  Panji Sakti, dan  selanjutnya  muncul  kerajaan yang  lain.  Nama  Kerajaan  Buleleng semakin  terkenal,  terutama setelah  zaman  penjajahan Belanda di Bali. Pada waktu  itu pernah terjadi perang  rakyat Buleleng melawan  Belanda.

         Pada zaman  kuno,  sebenarnya Buleleng sudah  berkembang. Pada masa perkembangan Kerajaan Dinasti Warmadewa, Buleleng diperkirakan  menjadi  salah  satu  daerah  kekuasaan Dinasti Warmadewa. Sesuai dengan letaknya yang ada di tepi pantai, Buleleng berkembang menjadi pusat perdagangan laut. Hasil pertanian dari pedalaman diangkut  lewat  darat  menuju  Buleleng. Dari  Buleleng  barang   dagangan  yang   berupa   hasil  pertanian seperti  kapas,  beras,  asam,  kemiri,  dan  bawang diangkut   atau diperdagangkan  ke  pulau  lain  (daerah   seberang).   Perdagangan dengan daerah   seberang mengalami   perkembangan pesat  pada masa Dinasti Warmadewa yang diperintah  oleh Anak Wungsu.  Hal ini dapat  dibuktikan  dengan adanya  kata-kata pada  prasasti  yang disimpan di Desa Sembiran yang berangka tahun  1065.

Kata-kata   yang  dimaksud   berbunyi,   “mengkana   ya  hana banyaga  sakeng  sabrangjong,  bahitra,  rumunduk i  manasa.  Artinya, andai kata ada saudagar dari seberang yang datang dengan jukung bahitra datang berlabuh  di manasa”

        Sistem   perdagangannya ada  yang  menggunakan  sistem barter, ada  yang sudah  dengan alat tukar  (uang).  Pada waktu  itu sudah dikenal beberapa jenis alat tukar (uang), misalnya ma, su dan piling.Dengan perkembangan perdagangan laut antar  pulau di zaman  kuno secara ekonomis Buleleng   memiliki  peranan  yang   penting bagi  perkembangan  kerajaan-kerajaan  di Bali misalnya  pada   masa   Kerajaan  Dinasti Warmadewa.


Setelah  Singhasari jatuh,  berdirilah kerajaan Majapahit  yang berpusat di Jawa Timur, abad  ke-14 - ke-15 M. Berdirinya kerajaan ini sebenarnya sudah direncanakan oleh Kertarajasa Jayawarddhana (Raden Wijaya). Ia mempunyai tugas untuk melanjutkan  kemegahan Singhasari  yang  saat  itu  sudah  hampir  runtuh. Saat itu dengan dibantu oleh Arya Wiraraja seorang penguasa  Madura, Raden Wijaya membuka hutan di wilayah yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai hutannya orang Trik. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya  diambil dari buah  maja, dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika  pasukan   Mongol  tiba,  Raden  Wijaya bersekutu dengan pasukan  Mongol untuk  bertempur melawan  Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan  Mongol sehingga memaksa  mereka menarik pulang kembali pasukannya.

Pada masa pemerintahannya Raden Wijaya mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh   sahabat-sahabatnya yang pernah mendukung  perjuangan dalam mendirikan Majapahit. Setelah   Raden   Wijaya   wafat, ia digantikan oleh puteranya Jayanegara.  Jayanegara  dikenal sebagai  raja yang kurang  bijaksana dan lebih suka bersenang-senang. Kondisi itulah yang menyebabkan pembantu-pembantunya melakukan  pemberontakan. Di antara   pemberontakan tersebut, yang dianggap paling berbahaya adalah pemberontakan Kuti. Pada saat  itu, pasukan Kuti berhasil menduduki ibu kota negara. Jayanegara terpaksa menyingkir ke Desa Badander di bawah  perlindungan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada. Gajah Mada kemudian menyusun strategi dan berhasil menghancurkan pasukan  Kuti. Atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat sebagai patih Kahuripan   (1319-1321) dan patih Kediri (1322-1330). Kerajaan Majapahit penuh  dengan intrik politik dari dalam kerajaan itu sendiri. Kondisi yang sama juga terjadi menjelang keruntuhan Majapahit. Masa pemerintahan Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddani adalah pembentuk kemegahan kerajaan.   Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun  1350. Ia diteruskan oleh  putranya, Hayam Wuruk. Pada masa Hayam Wuruk itulah Majapahit berada  di puncak  kejayaannya. Hayam  Wuruk  disebut juga Rajasanagara. Ia memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masa  pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan  Patih Gajah Mada,  Majapahit mencapai zaman keemasan. Wilayah kekuasaan Majapahit sangat  luas, bahkan  melebihi luas wilayah Republik Indonesia sekarang.  Oleh karena itu, Muhammad Yamin menyebut Majapahit dengan sebutan negara nasional kedua  di Indonesia. Seluruh kepulauan di Indonesia berada di bawah kekuasaan Majapahit. Hal ini memang tidak dapat  dilepaskan dan  kegigihan Gajah Mada. Sumpah  Palapa, ternyata  benar-benar dilaksanakan. Dalam melaksanakan cita-citanya, Gajah Mada didukung oleh beberapa tokoh, misalnya Adityawarman dan Laksamana Nala. Di bawah pimpinan Laksamana Nala Majapahit membentuk angkatan laut yang sangat kuat. Tugas utamanya adalah mengawasi seluruh perairan yang ada di Nusantara. Di bawah  pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kemajuan di berbagai bidang. Menurut  Kakawin  Nagarakertagama  pupuh  XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra,  Semenanjung Malaya, Kalimantan,  Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik  (Singapura)  dan  sebagian kepulauan Filipina. Majapahit juga  memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan dan Vietnam, dan  bahkan  mengirim  duta-dutanya ke Tiongkok.

SUMPAH PALAPA

Pada saat diangkat  sebagai Mahapatih  Gajah Mada bersumpah bahwa   ia  tidak  akan  beristirahat   (amukti  palapa)  jika belum dapat  menyatukan seluruh  Nusantara. Sumpah  itu  kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa sebagai berikut 

“Lamun  huwus   kalah  Nusantara   isun  amukti  palapa,   amun kalah  ring  Gurun,   ring  seran,   Tanjungpura,  ring  Haru,  ring Pahang,  Dompo,ring  Bali, Sunda,  Palembang,  Tumasik,  saman isun amukti palapa”

Artinya:

“Setelah   tunduk   Nusantara,  saya  akan  beristirahat;   Sesudah kalah  Gurun  seran,  Tanjungpura, Haru, Pahang,  Dompo,  Bali, Sunda, Palembang,  Tumasik, barulah saya akan beristirahat”

Politik dan Pemerintahan

Majapahit telah mengembangkan sistem pemerintahan yang  teratur. Raja memegang  kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan pemerintahan,raja  dibantu oleh berbagai badan atau pejabat berikut.

1.  Rakryan Mahamantri  Katrini, dijabat oleh para putra  raja, terdiri atas Rakryan i Hino, Rakryan i Sirikan, dan Rakryan i Halu.

2.  Dewan  Pelaksana  terdiri atas  Rakryan Mapatih atau  Patih Mangkabumi, Rakryan Tumenggung, Rakryan Demung, Rakryan Rangga dan  Rakryan Kanuruhan.  Kelima pejabat

ini dikenal sebagai  Sang Panca ring Wilwatika.  Di antara kelima pejabat itu Rakryan Mapatih atau Patih Mangkubumi merupakan pejabat   yang  paling  penting.   Ia menduduki tempat  sebagai perdana   menteri. Bersama  sama   raja, ia  menjalankan kebijaksanaan pemerintahan.  Selain  itu terdapat pula dewan  pertimbangan yang disebut  dengan Batara Sapta Prabu.Struktur  tersebut ada  di pemerintah pusat.  Di setiap daerah   yang   berada   di  bawah   raja-raja,   dibuatkan  pula struktur yang mirip. Untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dibentuklah   badan    peradilan    yang   disebut dengan Saptopapati. Selain itu disusun pula kitab hukum oleh Gajah Mada yang disebut Kitab Kutaramanawa.  Gajah Mada memang seorang  negarawan yang mumpuni.  Ia memahami pemerintahan strategi perang  dan hukum. Untuk mengatur kehidupan beragama dibentuk badan atau   pejabat   yang  disebut   Dharmadyaksa. Dharmadyaksa adalah pejabat tinggi kerajaan yang khusus   menangani persoalan  keagamaan. Di Majapahit  dikenal ada  dua Dharmadyaksa sebagai berikut.

1.  Dharmadyaksa ring Kasaiwan,mengurusi agama Syiwa (Hindu),

2.  Dharmadyaksa ring Kasogatan,mengurusi agama Buddha.

Dalam  menjalankan tugas,  masing-masing Dharmadyaksa dibantu oleh pejabat  keagamaan yang diberi sebutan Sang Pamegat. Kehidupan  beragama di  Majapahit  berkembang semarak.  Pemeluk  yang  beragama Hindu  maupun  Buddha saling  bersatu.  Pada  masa  itupun  sudah  dikenal  semboyan Bhinneka  Tunggal  Ika, artinya,  sekalipun  berbeda-beda baik Hindu  maupun Buddha  pada  hakikatnya   adalah  satu  jua. Kemudian  secara  umum  kita artikan  berbeda-beda  akhirnya satu jua Berkat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kehidupan politik, dan stabilitas nasional Majapahit  terjamin. Hal ini disebabkan pula  karena  kekuatan tentara Majapahit dan  angkatan  lautnya   sehingga   semua   perairan   nasional dapat  diawasi. Majapahit juga menjalin hubungan dengan negara- negara/ kerajaan lain. Hubungan dengan Negara Siam, Birma, Kamboja, Anam,India, dan  Cina berlangsung dengan baik. Dalam  membina  hubungan dengan luar  negeri,  Majapahit mengenal motto  Mitreka Satata, artinya negara  sahabat.

Kehidupan Sosial Ekonomi

Di bawah   pemerintahan  Raja Hayam  Wuruk,  rakyat Majapahit  hidup  aman  dan  tenteram. Hayam Wuruk sangat memperhatikan rakyatnya. Keamanan dan kemakmuran rakyat diutamakan. Untuk  itu dibangun jalan-jalan  dan  jembatan- jembatan. Dengan  demikian lalu lintas menjadi lancar. Hal ini mendukung kegiatan keamanan dan kegiatan perekonomian, terutama perdagangan. Lalu lintas perdagangan yang paling penting  melalui sungai. Misalnya, Sungai Bengawan  Solo dan Sungai Brantas. Akibatnya desa-desa di tepi sungai dan yang berada  di muara  serta  di tepi  pantai,  berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan.  Hal itu  menyebabkan  terjadinya arus bolak-balik para pedagang yang menjajakan  barang dagangannya dari daerah  pantai  atau  muara  ke pedalaman atau sebaliknya.Bahkan di daerah  pantai berkembang perdagangan antar daerah,  antar pulau, bahkan  dengan pedagang dari luar.Kemudian  timbullah kota-kota pelabuhan sebagai  pusat  pelayaran  dan  perdagangan. Beberapa  kota pelabuhan yang penting  pada  zaman  Majapahit,  antara  lain Canggu, Surabaya,  Gresik, Sedayu,  dan  Tuban.  Pada waktu itu  banyak  pedagang dari luar seperti  dari Cina  India, dan Siam.Adanya pelabuhan-pelabuhan tersebut mendorong munculnya  kelompok  bangsawan kaya.  Mereka  menguasai pemasaran bahan-bahan dagangan pokok dari dan ke daerah- daerah  Indonesia Timur dan Malaka. Kegiatan    pertanian    juga    dikembangkan.    Sawah dan ladang dikerjakan secukupnya dan dikerjakan secara bergiliran. Hal ini maksudnya agar tanah tetap subur dan tidak kehabisan  lahan pertanian. Tanggul-tanggul di sepanjang sungai diperbaiki untuk mencegah bahaya  banjir.

Perkembangan Sastra dan Budaya

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, bidang  sastra mengalami  kemajuan.  Karya sastra yang paling terkenal pada zaman  Majapahit  adalah  Kitab Negarakertagama. Kitab ini ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Di samping menunjukkan kemajuan di bidang sastra,  Negarakertagama juga merupakan sumber  sejarah  Majapahit. Kitab lain yang penting adalah   Sutasoma. Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma  memuat kata-kata yang sekarang menjadi semboyan  negara  Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Di samping  itu, Empu Tantular juga menulis kitab Arjunawiwaha. Bidang seni bangunan juga berkembang. Banyak bangunan candi telah dibuat. Misalnya Candi Penataran dan Sawentar di daerah Blitar, Candi Tigawangi dan Surawana di dekat  Pare, Kediri, serta Candi Tikus di Trowulan.Keruntuhan  Majapahit  lebih disebabkan oleh ketidakpuasan sebagian besar keluarga  raja, setelah  turunnya  Hayam Wuruk. Perang Paregrek telah  melemahkan unsur-unsur kejayaan  Majapahit.  Meskipun  peperangan berakhir, Majapahit  terus  mengalami  kelemahan karena  raja yang berkuasa tidak  mampu   lagi mengembalikan kejayaannya.  Unsur  lain yang menyebabkan runtuhnya Majapahit adalah semakin meluasnya pengaruh Islam pada saat itu.Kemajuan peradaban Majapahit itu tidak hilang dengan runtuhnya kerajaan itu. Pencapaian itu terus dipertahankan hingga masa perkembangan Islam di Jawa. Peninggalan peradaban Majapahit juga dapat kita saksikan pada perkembangan lingkup  kebudayaan  Bali pada saat ini. Kebudayaan yang masih dikembangkan hingga  masa  Islam adalah  cerita  wayang yang berasal dari epos India yaitu Mahabharata dan  Ramayana,  serta  kisah asmara  Raden Panji dengan Sekar Taji (Galuh Candrakirana).  Selain itu dapat  kita saksikan   juga   pada   unsur   arsitekturnya bentuk atap tumpang, seni ukir sulur-suluran dan tanaman melata, senjata keris, lokasi keramat,  dan masih banyak lagi.



A. Ken Arok (1222 – 1227 M)

Setelah  berakhirnya  Kerajaan  Kediri,  kemudian  berkembang Kerajaan   Singhasari.   Pusat  Kerajaan   Singhasari   kira-kira   terletak di  dekat  kota  Malang,  Jawa Timur.  Kerajaan  ini didirikan  oleh  Ken Arok. Ken Arok berhasil  tampil  sebagai  raja,  walaupun  ia  berasal dari  kalangan  rakyat  biasa.  Menurut   kitab  Pararaton,  Ken  Arok adalah  anak  seorang  petani  dari  Desa Pangkur, di sebelah timur Gunung  Kawi, daerah  Malang. Ibunya bernama Ken Endok. Diceritakan,   bahwa    pada    waktu    masih bayi, Ken Arok diletakkan oleh ibunya di sebuah makam.  Bayi ini kemudian ditemu oleh seorang pencuri, bernama Lembong. Akibat dari didikan dan lingkungan keluarga pencuri, maka Ken Arok pun menjadi seorang penjahat yang sering menjadi buronan pemerintah Kerajaan Kediri. Suatu ketika Ken Arok berjumpa dengan pendeta Lohgawe. Ken Arok mengatakan ingin menjadi orang  baik- baik. Kemudian dengan perantaraan Lohgawe, Ken  Arok  diabdikan  kepada   seorang   Akuwu (bupati) Tumapel, bernama Tunggul Ametung. Setelah beberapa lama mengabdi di Tumapel, Ken Arok mempunyai keinginan untuk memperistri Ken Dedes, yang sudah menjadi istri Tunggul Ametung. Kemudian timbul niat buruk  dari Ken Arok untuk membunuh  Tunggul  Ametung   agar   Ken  Dedes dapat   diperistri olehnya. Ternyata benar,  Tunggul Ametung   dapat   dibunuh oleh Ken Arok dengan keris Empu Gandring. Setelah Tunggul Ametung terbunuh, Ken Arok menggantikan sebagai penguasa di Tumapel dan  memperistri Ken Dedes. Pada waktu  diperistri Ken Arok, Ken Dedes sudah mengandung tiga bulan, hasil perkawinan dengan Tunggul Ametung. Pada waktu itu Tumapel hanya daerah  bawahan Raja Kertajaya dari Kediri.  Ken Arok ingin menjadi raja, maka  ia merencanakan menyerang  Kediri. Pada  tahun  1222  M Ken Arok atas  dukungan para  pendeta melakukan serangan ke Kediri. Raja Kertajaya dapat ditaklukkan oleh Ken Arok dalam pertempurannya di Ganter,  dekat Pujon, Malang. Setelah Kediri  berhasil ditaklukkan, maka  seluruh wilayah Kediri dipersatukan dengan Tumapel dan  lahirlah Kerajaan Singhasari. Setelah berdiri Kerajaan Singhasari, Ken Arok tampil sebagai raja pertama. Ken Arok sebagai raja bergelar Sri  Ranggah  Rajasa Sang Amurwabumi. Ken Arok memerintah selama lima tahun. Pada tahun  1227  M Ken Arok dibunuh oleh seorang  pengalasan atau pesuruh  dan  Batil, atas  perintah Anusapati. Anusapati adalah putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung.  Jenazah Ken Arok dicandikan di  Kagenengan  dalam  bangunan  perpaduan  Syiwa-Buddha.  Ken Arok meninggalkan beberapa putra.  Bersama Ken Umang, Ken Arok memiliki empat putra, yaitu Panji Tohjoyo, Panji Sudatu, Panji Wregola, dan  Dewi Rambi. Bersama Ken Dedes, Ken Arok mempunyai putra bernama Mahesa Wongateleng.

B.  Anusapati

Tahun 1227  M Anusapati  naik tahta  Kerajaan Singhasari.  Ia memerintah selama 21 tahun.  Akan tetapi, ia belum banyak berbuat untuk pembangunan kerajaan. Lambat  laun  berita  tentang pembunuhan Ken Arok sampai pula kepada  Tohjoyo (putra Ken Arok). Oleh karena  ia mengetahui pembunuh ayahnya adalah Anusapati, maka Tohjoyo ingin membalas dendam, yaitu membunuh Anusapati.  Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati  memiliki kesukaan  menyabung ayam maka ia mengajak Anusapati  untuk  menyabung ayam.  Pada  saat  menyabung ayam, Tohjoyo berhasil  membunuh Anusapati.  Anusapati  dicandikan  di Candi Kidal dekat Kota Malang sekarang. Anusapati meninggalkan seorang  putra bernama Ronggowuni.

C. Tohjoyo (1248 M)

Setelah  berhasil  membunuh Anusapati,  Tohjoyo naik tahta. Masa pemerintahannya sangat  singkat,  Ronggowuni  yang merasa berhak atas tahta  kerajaan,  menuntut tahta  kepada  Tohjoyo. Ronggowuni  dalam  hal ini dibantu  oleh  Mahesa  Cempaka,  putra dari Mahesa Wongateleng. Menghadapi tuntutan ini, maka Tohjoyo mengirim pasukannya di bawah  Lembu Ampal untuk melawan Ronggowuni.    Kemudian   terjadi   pertempuran  antara    pasukan Tohjoyo   dengan   pengikut    Ronggowuni.    Dalam   pertempuran tersebut Lembu Ampal berbalik  memihak  Ronggowuni.  Serangan pengikut  Ronggowuni  semakin kuat dan berhasil menduduki istana Singhasari. Tohjoyo berhasil meloloskan diri dan akhirnya meninggal di daerah  Katang Lumbang akibat luka-luka yang dideritanya.

D. Ronggowuni (1248 - 1268 M)

Ronggowuni  naik tahta  Kerajaan Singhasari tahun  1248  M. Ronggowuni  bergelar  Sri Jaya Wisnuwardana. Dalam memerintah ia didampingi  oleh Mahesa  Cempaka  yang berkedudukan sebagai Ratu  Anggabaya. Mahesa  Cempaka  bergelar  Narasimhamurti.  Disamping itu, pada tahun  1254  M Wisnuwardana juga mengangkat putranya  yang bernama Kertanegara sebagai  raja muda  atau Yuwaraja. Pada saat itu Kertanegara masih sangat  muda. Singhasari di bawah  pemerintahan Ronggowuni  dan Mahesa Cempaka   hidup   dalam   keadaan  aman   dan   tenteram.  Rakyat hidup   dengan  bertani   dan   berdagang.  Kehidupan   rakyat  juga mulai terjamin.  Raja memerintahkan untuk  membangun benteng pertahanan di Canggu Lor. Tahun 1268 M, Ronggowuni meninggal dunia dan dicandikan di dua  tempat, yaitu sebagai  Syiwa di Waleri dan  sebagai  Buddha Amogapasa di Jajagu. Jajagu kemudian  dikenal dengan Candi Jago. Bentuk  Candi  Jago  sangat   menarik,  yaitu  kaki  candi  bertingkat tiga  dan  tersusun   berundak-undak. Reliefnya datar  dan  gambar orangnya menyerupai  wayang kulit di Bali. Tokoh satria selalu diikuti dengan punakawan. Tidak lama kemudian  Mahesa  Cempaka  pun meninggal  dunia. Ia dicandikan di Kumeper dan Wudi Kucir.

E. Kertanegara (1268 - 1292 M)

        Tahun 1268 M Kertanegara naik tahta  menggantikan Ronggowuni.  Ia bergelar  Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara merupakan  raja  yang  paling  terkenal  di  Singhasari. Ia bercita-cita,  Singhasari menjadi kerajaan  yang besar. Untuk mewujudkan cita-citanya,  maka  Kertanegara melakukan  berbagai usaha. 

Perluasan  Daerah Singasari 

        Kertanegara menginginkan wilayah Singhasari hingga meliputi seluruh Nusantara. Beberapa daerah  berhasil ditaklukkan,  misalnya Bali, Kalimantan  Barat Daya, Maluku, Sunda,  dan Pahang.  Penguasaan daerah-daerah di luar Jawa yang  merupakan pelaksanaan politik luar  negeri  bertujuan untuk  mengimbangi pengaruh Kubilai Khan dari Cina. Pada tahun  1275  M Raja Kertanegara mengirimkan  Ekspedisi Pamalayu di bawah  pimpinan Mahesa Anabrang  (Kebo Anabrang). Sasaran dari ekspedisi ini untuk  menguasai Sriwijaya. Akan  tetapi,   untuk  menguasainya harus  melalui daerah   sekitarnya  termasuk   bersahabat dan  menanamkan pengaruh Singhasari  di Melayu. Sebagai tanda  persahabatan, Kertanegara menghadiahkan  patung  Amogapasa kepada penguasa Melayu. Ekspedisi Pamalayu diharapkan akan menggoyahkan Sriwijaya. Dalam rangka memperkuat politik luar negeranya, Kertanegara menjalin  hubungan  dengan  kerajaan-kerajaan lain di luar Kepulauan Indonesia. Misalnya dengan Raja Jayasingawarman III  dan Kerajaan Campa.  Bahkan Raja Jayasingawarman III memperistri salah seorang  saudara perempuan dari Kertanegara. Kertanegara memandang Cina sebagai saingan. Berkali- kali utusan  Kaisar Cina memaksa  Kertanegara agar mengakui kekuasaan Cina, tetapi ditolak oleh Kertanegara. Terakhir pada tahun  1289 M datang utusan  Cina yang dipimpin oleh Meng- ki. Kertanegara marah,  Meng-ki disakiti dan disuruh kembali ke Cina. Hal inilah yang  membuat marah  Kaisar Cina yang bernama Kubilai Khan. Ia merencanakan membalas  tindakan Kertanegara. 

Perkembangan Politik dan Pemerintahan 

        Untuk   menciptakan  pemerintahan   yang   kuat   dan teratur,  Kertanegara telah  membentuk badan-badan pelaksana.  Raja sebagai  penguasa tertinggi.  Kemudian  raja mengangkat tim penasihat yang terdiri atas  Rakryan i Hino, Rakryan i Sirikan, dan Rakryan i Halu. Untuk membantu raja dalam pelaksanaan pemerintahan, diangkat beberapa pejabat tinggi  kerajaan  yang  terdiri atas  Rakryan Mapatih,  Rakryan Demung  dan  Rakryan Kanuruhan.  Selain itu,  ada  pegawai- pegawai  rendahan. Untuk menciptakan stabilitas politik dalam negeri, Kertanegara melakukan penataan di lingkungan para pejabat. Orang-orang yang tidak setuju dengan cita-cita Kertanegara diganti. Sebagai contoh,  Patih Raganata (Kebo Arema) diganti oleh  Aragani  dan  Banyak  Wide  dipindahkan   ke  Madura, menjadi Bupati Sumenep  dengan nama Arya Wiraraja.

Kehidupan Agama

Pada  masa  pemerintahan Kertanegara, agama  Hindu maupun Buddha  berkembang dengan baik.  Bahkan  terjadi Sinkretisme antara agama Hindu dan Buddha, menjadi bentuk Syiwa-Buddha. Sebagai contoh, berkembangnya aliran Tantrayana. Kertanegara sendiri penganut aliran Tantrayana. Usaha untuk memperluas wilayah dan mencari dukungan dan berbagai daerah terus dilakukan oleh Kertanegara. Banyak pasukan  Singhasari yang dikirim ke berbagai  daerah.  Antara lain  pasukan   yang  dikirim ke  tanah   Melayu.  Oleh  karena itu, keadaan ibu dua kota kerajaan  kekuatannya berkurang. Keadaan  ini diketahui  oleh  pihak-pihak  yang  tidak  senang terhadap kekuasaan Kertanegara. Pihak yang  tidak  senang itu  antara   lain Jayakatwang, penguasa  Kediri. Ia berusaha menjatuhkan kekuasaan Kertanegara.

Saat yang dinantikan  oleh Jayakatwang ternyata  telah tiba.   Istana   Kerajaan   Singhasari   dalam   keadaan  lemah. Pasukan kerajaan  hanya tersisa sebagian  kecil. Pada saat itu, Kertanegara sedang  melakukan  upacara  keagamaan dengan pesta  pora,  sehingga  Kertanegara benar-benar lengah.  Tiba- tiba,  Jayakatwang menyerbu  istana  Kertanegara. Serangan Jayakatwang dibagi menjadi dua arah. Sebagian kecil pasukan Kediri menyerang dari arah utara untuk memancing pasukan Singhasari  keluar  dari pusat  kerajaan.  Sementara itu induk pasukan  Kediri bergerak  dan  menyerang dari arah  selatan. Untuk menghadapi serangan Jayakatwang, Kertanegara mengirimkan  pasukan  yang  ada  di bawah  pimpinan  Raden Wijaya dan Pangeran  Ardaraja. Ardaraja adalah  anak Jayakatwang dan  menantu dari Kartanegara. Pasukan  Kediri yang datang dari arah  utara  dapat  dikalahkan  oleh pasukan Raden   Wijaya  Akan  tetapi,   pasukan   inti  dengan  leluasa masuk dan menyerang istana, sehingga berhasil menewaskan Kertanegara. Peristiwa ini terjadi pada  tahun  1292  M. Raden Wijaya dan  pengikutnya   kemudian   meloloskan  diri setelah mengetahui istana kerajaan dihancurkan  oleh pasukan  Kediri. Sedangkan   Ardaraja   membalik   dan   bergabung  dengan pasukan  Kediri. Jenazah  Kertanegara kemudian dicandikan   di  dua  tempat, yaitu  di  Candi  Jawi di Pandaan  dan di Candi Singosari, di daerah Singosari, Malang.Sebagai  raja yang  besar,  nama Kertanegara diabadikan  di berbagai  tempat. Bahkan di Surabaya ada sebuah  arca Kertanegara yang menyerupai bentuk arca Buddha. Arca Kertanegara itu dinamakan arca Joko Dolok. Dengan terbunuhnya Kertanegara maka berakhirlah  Kerajaan Singasari.


Kehidupan politik pada bagian awal di Kerajaan Kediri ditandai dengan perang   saudara   antara   Samarawijaya  yang  berkuasa   di Panjalu  dan  Panji Garasakan  yang  berkuasa  di Jenggala.  Mereka tidak dapat  hidup berdampingan. Pada tahun  1052 M terjadi peperangan perebutan kekuasaan di antara kedua belah pihak. Pada tahap  pertama Panji Garasakan  dapat  mengalahkan Samarawijaya, sehingga Panji Garasakan berkuasa. Di Jenggala kemudian berkuasa raja-raja pengganti Panji Garasakan. Tahun 1059 M yang memerintah adalah  Samarotsaha. Akan tetapi  setelah  itu tidak terdengar berita mengenal Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Baru pada tahun  1104 M tampil  Kerajaan  Panjalu sebagai  rajanya Jayawangsa. Kerajaan  ini lebih dikenal dengan nama  Kerajaan Kediri dengan ibu kotanya  di Daha. Tahun 1117 M Bameswara tampil sebagai Raja Kediri Prasasti yang ditemukan, antara  lain Prasasti Padlegan  (1117 M) dan Panumbangan (1120  M). Isinya yang  penting  tentang pemberian status perdikan untuk beberapa desa.

Pada tahun  1135  M tampil raja yang sangat  terkenal,  yakni Raja Jayabaya. Ia meninggalkan tiga prasasti penting,  yakni Prasasti Hantang atau Ngantang (1135 M), Talan (1136 M) dan Prasasti Desa Jepun  (1144  M). Prasasti Hantang  memuat tulisan  panjalu  jayati, artinya  panjalu  menang. Hal itu  untuk  mengenang kemenangan Panjalu atas  Jenggala.  Jayabaya telah  berhasil mengatasi berbagai kekacauan di kerajaan. Di  kalangan    masyarakat    Jawa,   nama    Jayabaya   sangat dikenal karena  adanya  Ramalan atau  Jangka Jayabaya. Pada masa pemerintahan Jayabaya telah digubah  Kitab Baratayuda  oleh Empu Sedah dan kemudian  dilanjutkan  oleh Empu Panuluh.

Perkembangan Politik, Sosial,  dan Ekonomi

Sampai masa awal pemerintahan Jayabaya, kekacauan akibat   pertentangan  dengan  Janggala   terus   berlangsung. Baru pada  tahun  1135  M Jayabaya  berhasil  memadamkan kekacauan itu. Sebagai bukti, adanya  kata-kata panjalu jayati pada prasasti Hantang. Setelah kerajaan stabil, Jayabaya mulai menata dan mengembangkan kerajaannya. Kehidupan Kerajaan Kediri menjadi teratur. Rakyat hidup makmur.  Mata  pencaharian yang  penting  adalah  pertanian dengan hasil  utamanya  padi.  Pelayaran  dan  perdagangan juga berkembang. Hal ini ditopang oleh Angkatan  Laut Kediri yang cukup  tangguh. Armada  laut Kediri mampu  menjamin keamanan perairan  Nusantara. Di Kediri telah  ada  Senopati Sarwajala  (panglima  angkatan laut).  Bahkan  Sriwijaya yang pernah  mengakui  kebesaran Kediri, yang telah mampu mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Barang perdagangan di Kediri antara  lain emas,  perak,  gading,  kayu cendana, dan pinang.  Kesadaran  rakyat tentang pajak sudah tinggi.   Rakyat  menyerahkan  barang   atau   sebagian   hasil buminya kepada  pemerintah.

Menurut  berita  Cina,  dan  kitab  Ling-wai-tai-ta diterangkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang memakai   kain  sampai  di  bawah   lutut.   Rambutnya  diurai. Rumah-rumah  mereka bersih dan teratur,  lantainya ubin yang berwarna kuning dan hijau. Dalam perkawinan, keluarga pengantin wanita menerima mas kawin berupa emas. Rajanya berpakaian  sutera,   memakai   sepatu, dan  perhiasan   emas. Rambutnya  disanggul  ke  atas.  Kalau  bepergian, Raja naik gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 prajurit.

Di bidang  kebudayaan, yang menonjol  adalah perkembangan seni sastra dan pertunjukan wayang. Di Kediri dikenal adanya  wayang panji.

Beberapa  karya sastra yang terkenal,  sebagai berikut.

1.  Kitab Baratayuda

Kitab Baratayudha ditulis pada zaman Jayabaya, untuk memberikan  gambaran terjadinya  perang  saudara  antara Panjalu melawan Jenggala. Perang saudara itu digambarkan dengan perang  antara  Kurawa dengan Pandawa yang masing-masing merupakan keturunan Barata.

2.  Kitab Kresnayana

Kitab Kresnayana ditulis oleh  Empu Triguna pada  zaman Raja Jayaswara. Isinya mengenai perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.

3.  Kitab Smaradahana

Kitab Smaradahana  ditulis pada  zaman  Raja Kameswari oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan tentang sepasang suami  istri Smara dan  Rati yang  menggoda Dewa  Syiwa yang sedang  bertapa. Smara dan Rail kena kutuk dan mati terbakar  oleh api (dahana) karena  kesaktian  Dewa Syiwa. Akan  tetapi,   kedua  suami  istri itu  dihidupkan   lagi  dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya.

4.  Kitab Lubdaka

Kitab Lubdaka  ditulis oleh  Empu  Tanakung  pada  zaman Raja Kameswara. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah  banyak membunuh. Pada suatu  ketika ia mengadakan pemujaan yang istimewa terhadap Syiwa, sehingga  rohnya yang semestinya  masuk neraka,  menjadi masuk surga.

Raja yang terakhir dan Kerajaan Kediri adalah Kertajaya atau    Dandang     Gendis.    Pada    masa    pemerintahannya, terjadi  pertentangan  antara   raja  dan   para   pendeta  atau kaum  brahmana,  karena   Kertajaya  berlaku  sombong dan berani melanggar adat.  Hal ini memperlemah pemerintahan di Kediri.Para brahmana kemudian mencari perlindungan kepada  Ken Arok yang merupakan penguasa di Tumapel. Pada tahun 1222 M, Ken Arok dengan dukungan kaum  brahmana menyerang Kediri sehingga dapat   dikalahkan  olehKen Arok.

 

Pada pertengahan abad  ke-8 di Jawa bagian  tengah berdiri sebuah kerajaan baru. Kerajaan itu kita kenal dengan nama Kerajaan Mataram  Kuno. Mengenai  letak dan pusat Kerajaan Mataram  Kuno tepatnya belum  dapat  dipastikan.  Ada  yang  menyebutkan pusat kerajaan  di Medang  dan  terletak  di Poh Pitu. Sementara itu letak Poh Pitu sampai  sekarang  belum jelas. Keberadaan lokasi kerajaan itu dapat  diterangkan berada di sekeliling pegunungan, dan sungai- sungai.   Di  sebelah   utara   terdapat  Gunung   Merapi,   Merbabu, Sumbing,   dan   Sindoro;  di  sebelah   barat   terdapat  Pegunungan Serayu; di sebelah  timur terdapat Gunung  Lawu, serta  di sebelah selatan  berdekatan dengan Laut Selatan  dan  Pegunungan  Seribu. Sungai-sungai  yang ada,  misalnya Sungai Bogowonto, Elo, Progo, Opak, dan Bengawan  Solo. Letak Poh Pitu mungkin di antara  Kedu sampai sekitar Prambanan.

Untuk mengetahui perkembangan Kerajaan  Mataram  Kuno dapat   digunakan  sumber   yang  berupa   prasasti.   Ada  beberapa prasasti yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Klura, Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung.  Di samping  beberapa prasasti  tersebut, sumber sejarah  untuk  Kerajaan  Mataram   Kuno  juga  berasal  dari  berita Cina.

Prasasti Kalasan

Perkembangan Pemerintahan

Sebelum  Sanjaya berkuasa  di Mataram  Kuno, di Jawa sudah   berkuasa   seorang   raja   bernama  Sanna.   Menurut prasasti  Canggal  yang berangka tahun  732  M, diterangkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya adalah putra Sanaha,  saudara  perempuan dari Sanna. Dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, disebut nama Dapunta Syailendra yang beragama Syiwa (Hindu). Diperkirakan Dapunta  Syailendra berasal  dari Sriwijaya dan  menurunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah. Dalam hal  ini Dapunta   Syailendra  diperkirakan  yang  menurunkan Sanna, sebagai raja di Jawa.

Sanjaya  tampil  memerintah  Kerajaan  Mataram   Kuno pada  tahun  717  - 780  M. Ia melanjutkan kekuasaan Sanna. Sanjaya kemudian melakukan penaklukan terhadap raja-raja kecil bekas bawahan Sanna yang melepaskan diri. Setelah itu, pada  tahun  732  M Raja Sanjaya mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan. Bangunan ini berupa  lingga dan berada   di atas  Gunung   Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu merupakan lambang keberhasilan Sanjaya dalam menaklukkan raja-raja lain. Raja Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki pengetahuan luas. Para pujangga dan rakyat hormat kepada  rajanya. Oleh karena  itu, di bawah  pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan menjadi aman  dan  tenteram. Rakyat hidup makmur.  Mata pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil  utama   padi.  Sanjaya  juga  dikenal  sebagai  raja  yang paham  akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibangun oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga di atas Gunung  Wukir, sebagai lambang  telah  ditakhlukkannya  raja-raja  kecil  di  sekitarnya yang dulu mengakui kemaharajaan Sanna. Setelah Raja Sanjaya wafat,  ia digantikan oleh putranya bernama Rakai Panangkaran. Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama  Buddha. Dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun  778, Raja Panangkaran telah memberikan hadiah tanah  dan  memerintahkan membangun sebuah  candi untuk  Dewi Tara dan sebuah  biara untuk  para pendeta agama Buddha. Tanah dan  bangunan tersebut terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa  Raja Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke arah timur.

Raja Panangkaran dikenal  sebagai penakluk yang gagah  berani bagi musuh- musuh kerajaan. Daerahnya bertambah luas.  Ia  juga   disebut   sebagai   permata dari Dinasti Syailendra. Agama Buddha Mahayana  waktu  itu berkembang pesat. Ia juga memerintahkan didirikannya bangunan-bangunan  suci.  Misalnya, candi Kalasan dan arca Manjusri. Setelah kekuasaan Penangkaran berakhir,   timbul   persoalan   dalam keluarga Syailendra, karena adanya perpecahan   antara    anggota   keluarga yang sudah  memeluk  agama  Buddha dengan keluarga  yang masih  memeluk  agama  Hindu (Syiwa).Hal ini menimbulkan perpecahan di dalam pemerintahan Kerajaan Mataram  Kuno. Satu  pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut agama Hindu berkuasa di daerah Jawa bagian utara.  Kemudian keluarga yang terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha  berkuasa  di daerah  Jawa bagian  selatan. Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan bangunan-bangunan candi  di Jawa  bagian  utara.  Misalnya, candi-candi   kompleks   Pegunungan  Dieng   (Candi   Dieng) dan  kompleks  Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng memakai nama-nama tokoh wayang seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, dan Semar. Sementara yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti Candi Ngawen,  Mendut, Pawon  dan  Borobudur. Candi Borobudur  diperkirakan  mulai dibangun oleh  Samaratungga pada  tahun 824 M. Pembangunan kemudian dilanjutkan pada zaman Pramudawardani dan Pikatan.

Perpecahan di dalam  keluarga  Syailendra tidak berlangsung lama. Keluarga itu akhirnya bersatu kembali. Hal ini ditandai dengan perkawinan  Rakai  Pikatan  dan  keluarga   yang  beragama  Hindu dengan Pramudawardani, putri dari Samaratungga. Perkawinan itu terjadi  pada  tahun  832  M. Setelah  itu, Dinasti Syailendra bersatu kembali di bawah  pemerintahan Raja Pikatan. Setelah Samaratungga wafat, anaknya dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa menunjukkan sikap menentang terhadap Pikatan.  Kemudian   terjadi  perang   perebutan  kekuasaan antara Pikatan  dengan Balaputradewa. Dalam perang  ini Balaputradewa membuat benteng  pertahanan di  perbukitan   di  sebelah  selatan Prambanan. Benteng  ini sekarang  kira kenal dengan Candi Boko. Dalam  pertempuran,  Balaputradewa terdesak   dan  melarikan  diri ke Sumatra.  Balaputradewa kemudian  menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan  Mataram  Kuno  daerahnya bertambah  luas. Kehidupan   agama   berkembang  pesat   tahun   856  Rakai Pikatan turun  tahta  dan  digantikan  oleh  Kayuwangi  atau  Dyah Lokapala. Kayuwangi kemudian  digantikan  oleh Dyah Balitung. Raja Balitung merupakan raja yang  terbesar. Ia memerintah pada  tahun  898 -911  M dengan gelar Sri Maharaja  Rakai Wafukura  Dyah Balitung Sri Dharmadya  Mahasambu. Pada pemerintahan Balitung bidang- bidang  politik, pemerintahan, ekonomi,  agama,  dan  kebudayaan mengalami   kemajuan.   Ia  telah   membangun  Candi  Prambanan sebagai   candi  yang  anggun dan  megah.   Relief-reliefnya sangat indah. Sesudah Balitung Kerajaan Mataram mulai mundur. Raja yang berkuasa setelah Balitung adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Beberapa  faktor  yang  menyebabkan kemunduran Mataram  Kuno antara  lain adanya  bencana alam  dan  ancaman dari musuh  yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaan Dinasti Isyana

Pertentangan di antara  keluarga  Mataram, nampaknya terus berlangsung hingga  masa  pemerintahan Mpu Sindok pada  tahun 929 M. Pertikaian yang tidak pernah berhenti itu menyebabkan Mpu Sindok memindahkan ibukota kerajaan dari Medang  ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti Isyanawangsa. Disamping karena  pertentangan keluarga,  pemindahan pusat kerajaan  juga dikarenakan kerajaan  mengalami  kehancuran akibat letusan  Gunung  Merapi. Berdasarkan prasasti,  pusat  pemerintahan Keluarga Isyana terletak di Tamwlang. Letak Tamwlang diperkirakan dekat  Jombang, sebab  di Jombang  masih ada desa yang namanya mirip, yakni desa  Tambelang. Daerah  kekuasaannya meliputi Jawa bagian timur, Jawa bagian tengah, dan Bali.

Setelah Mpu Sindok meninggal,  ia digantikan  oleh anak perempuannya bernama Sri Isyanatunggawijaya. Ia naik tahta  dan kawin dengan Sri Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah putra yang bernama Makutawangsawardana.  Makutawangsawardana  naik tahta  menggantikan ibunya.  Kemudian  pemerintahan  dilanjutkan oleh Dharmawangsa.  Dharmawangsa Tguh yang memeluk  agama Hindu aliran Waisya. Pada masa pemerintahannya, Dharmawangsa Tguh  memerintahkan untuk  menyadur   kitab  Mahabarata  dalam bahasa   Jawa  Kuno.  Setelah  Dharmawangsa  Tguh  turun   tahtah ia digantikan  oleh Raja Airlangga,  yang saat  itu usianya masih 16 tahun. Hancurnya kerajaan Dharmawangsa menyebabkan Airlangga berkelana ke hutan. Selama di hutan ia hidup bersama pendeta sambil mendalami  agama.  Airlangga kemudian  dinobatkan oleh pendeta agama Hindu dan Buddha sebagai raja. Begitulah kehidupan agama pada  masa  Mataram  Kuno. Meskipun  mereka  berbeda aliran dan keyakinan, penduduk Mataram  Kuno tetap  menghargai perbedaan yang ada. Setelah  dinobatkan  sebagai  raja,  Airlangga  segera mengadakan pemulihan  hubungan baik dengan Sriwijaya, bahkan membantu Sriwijaya ketika  diserang  Raja Colamandala dari India Selatan.   Pada tahun  1037  M, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah  dikuasai oleh Dharmawangsa, meliputi  seluruh  Jawa  Timur. Airlangga   kemudian  memindahkan ibukota kerajaannya  dari Daha ke Kahuripan.

Airlangga  memerintahkan  Mpu  Bharada   untuk   membagi dua  kerajaan.   Kerajaan  itu  adalah  Kediri dan  Janggala.   Hal itu dilakukan  untuk  mencegah terjadinya  perang   saudara   di  antara kedua  putranya  yang lahir dari selir. Kerajaan Janggala  di sebelah timur diberikan kepada  putra  sulungnya  yang bernama Garasakan (Jayengrana),  dengan ibukota  di Kahuripan  (Jiwana). Wilayahnya meliputi daerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan, dan Kerajaan Panjalu (Kediri). Kerajaan Kediri di sebelah  barat  diberikan  kepada putra  bungsunya yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa) dengan ibukota di Kediri (Daha), meliputi daerah  sekitar Kediri dan Madiun. Kerajaan  Kediri adalah  kerajaan  pertama yang  mempunyai sistem administrasi kewilayahan negara  berjenjang. Hierarki kewilayahan dibagi atas tiga jenjang. Struktur paling bawah  dikenal dengan thani (desa). Desa ini terbagi  menjadi  bagian-bagian yang lebih kecil lagi yang dipimpin oleh seorang  duwan.   Setingkat  lebih tinggi di atasnya  disebut  wisaya, yaitu sekumpulan dari desa-desa. Tingkatan paling  tinggi  yaitu negara  atau  kerajaan  yang  disebut dengan bhumi.

Prasasti Canggal



Prasasti Kedu