:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label XII. Tampilkan semua postingan

 Perjuangan dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia tidaklah mudah, mengingat bangsa ini memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari banyak suku, bahasa, dan budaya. Namun, perjuangan pergerakan yang dilakukan oleh banyak tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa telah membuat Indonesia terbebas dari penjajahan hingga kini. Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan tokoh persatuan Indonesia atau biasa dikenal pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari nusantara. Ada beberapa tokoh persatuan Indonesia khususnya dari daerah yang dapat menjadi teladan terhadap perjuangan bangsa Indonesia, antara lain :

Pahlawan Nasional dari Papua

Papua adalah wilayah Indonesia yang bahkan setelah Indonesia merdeka masih dikuasai dan diklaim oleh Belanda. Hal ini sendiri berkaitan erat dengan hasil dari Konfrensi Meja Bundar (KMB) yang menyatakan bahwa untuk kasus Papua akan dibicarakan oleh RI dan Belanda satu tahun kemudian. Namun nyatanya hal itu tidak terjadi dan terpaksa Indonesia harus menempuh jalan militer guna mendapatkan Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Frans Kaisiepo (1921-1979
Beliau merupakan tokoh yang tergabung dalam Partai Indonesia Merdeka dan berperan dalam mempopulerkan lagu Indonesia Raya di Papua. Kaisiepo ikut berperan dalam pemberontakan masyarakat Biak terhadap kolonialisme Belanda. Ia juga berperan dalam membantu tentara Trikora dalam penyerbuan perebutan Irian dari tangan Belanda.

Silas Papare (1918-1978)
Silas papare adalah tokoh yang menjadi pelopor dari Komite Indonesia Merdeka yang terbentuk guna menggalang kekuatan dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Marthen Indey (1912-1986)
Marthen Indey merupakan seorang polisi Hindia Belanda yang tetap memiliki jiwa semangat kemerdekaan meskipun bekerja untuk Hindia Belanda. Ia menjabat sebagai ketua Partai Indonesia Merdeka yang bertujuan untuk menggalang kekuatan guna melakukan pemberontakan terhadap Hindia Belanda.


Tokoh Yang Berkorban Untuk Bangsa

Sultan Hamengkubuwono IX
Ketika Indonesia merdeka masih terdapat beberapa kerajaan yang berdiri secara berdaulat salah satunya Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Bahkan, mereka rela bergabung dan menjadi bagian dari Indonesia. Sejak awal kemerdekaan Kesultanan Yogyakarta memberikan fasilitas guna menunjang pemerintah RI dalam menjalankan pemerintahannya. Hal ini menunjukan bawa Sultan Hamengkubuwono IX merupakan sosok yang berpikir dan bertindak bijaksana dalam keutuhan.

Ismail Marzuki (1914-1958)
Beliau merupakan seorang sastrawan seni Indonesia. Lagu-lagu karyanya bernuansa perjuangan dan menggugah rasa cinta terhadap tanah air dengan ciri khas menceritakan peristiwa penting pada saat lagu dibuat. Adapun lagunya seperti Rayuan Pulau Kelapa, Halo-halo Bandung, Selendang Sutera, dan Sepasang Mata Bola.

Opu Daeng Risaju
Opu Daeng Risaju adalah seorang tokoh perempuan yang menjadi pelopor gerakan Partai Sarikat Islam yang sangat menentang adanya penjajahan dan kolonialisme yang dilakukan Belanda terhadap bangsa Indonesia. Ia aktif dalam mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik dipusat maupun daerah, sehingga membuat tetua adat yang pro Belanda menjatuhinya hukuman dibuang karena dianggap melanggar hukum adat dengan melakukan aktivitas politik.

        Percaya enggak sih untuk menghilangkan suatu bangsa pihak musuh enggak perlu melakukan serangan militer, tapi cukup menghilangkan masa lalunya, yakni sejarah bangsanya. Maka tak heran Bung Karno menyerukan “Jas Merah” atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Ngomongin sejarah Indonesia, tak akan lengkap bila tak mengulik bagaimana setelah Proklamasi, negara-negara lain mengakui Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.

Pengakuan Kemerdekaan RI dari Berbagai Negara

Syarat Sah Berdirinya Negara:

        a) memiliki wilayah yang berdaulat

        b) terdapat rakyat yang mendiami wilayah

        c) memiliki pemerintah dan pemerintahan

        d) memiliki undang-undang

        e) pengakuan kedaulatan atau kemerdekaan oleh negara lain baik secara de facto maupun de jure.

1. MESIR

        Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 22 Maret 1946.Pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia juga tidak terlepas dari keberadaan organisasi Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh Hasan Al-Banna dengan menjunjung Pan-Islamisme yang menentang belenggu kolonialisme Barat di negara-negara Islam. Gerakan Ikhwanul Muslimin berupaya menarik atensi pemerintah dan masyarakat Mesir untuk mendukung kemerdekaan Indonesia yang terealisasi melalui Liga Arab.

        Melalui forum Liga Arab, Mesir berhasil meyakinkan Suriah, Qatar, Irak, dan Arab Saudi untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dalam sidang majelis yang digelar pada tanggal 18 November 1946, yang menyebabkan Liga Arab memberikan pengakuan secara resmi terhadap kemerdekaan Indonesia.Dukungan pemerintah Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia kembali diwujudkan dengan mengutus diplomatnya yang bernama Mohammad Abdul Mun’im berkunjung ke Indonesia pada 13-16 Maret 1947 untuk menyerahkan surat resmi yang berisi dukungan negara-negara Liga Arab terhadap kemerdekaan Indonesia kepada Presiden Soekarno.

        Pada 10 April 1947 Presiden Soekarno mengutus beberapa diplomat seperti H. Agus Salim, A.R. Baswedan, Nadzir D. Pamoentjak, dan Rasjidi untuk mengemban misi kunjungan balasan ke Mesir.Kunjungan diplomatik Indonesia ke Mesir tersebut mendapat pertentangan dari Belanda. Akan tetapi, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir justru semakin terus terjalin melalui misi diplomatik lanjutan pada 26 April 1947. Diplomasi yang diwakili oleh Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim tersebut berlangsung cukup intens dengan sejumlah pejabat tinggi Mesir. Salah satu keputusan penting dalam pertemuan tersebut adalah rencana pemerintah Mesir dan Liga Arab untuk memberikan pengakuan secara de jure terhadap kemerdekaan Indonesia.

2. INDIA

Upaya Diplomasi Beras

        Untuk membuka blokade Belanda, pemerintah Indonesia yang pada saat itu di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sutan Sjahrir berhasil memanfaatkan momentum yang tepat. India sebagai negara jajahan Inggris tengah terancam bencana kelaparan. Sementara, Indonesia pada tahun 1946 diperkirakan mengalami surplus beras sebanyak 200.000-500.000 ton. Sebagai imbalannya, pemerintah Indonesia meminta bantuan beras tersebut ditukar dengan tekstil dan obat-obatan. Upaya diplomasi yang dilakukan Sutan Sjahrir dengan India tersebut kemudian dikenal dengan istilah Diplomasi Beras. Beras-beras pun kemudian diangkut ke pelabuhan yang dikuasai Sekutu (Inggris). Sir Pandhit Jawaharlal Nehru sebagai tokoh pejuang kemerdekaan India, menyambut uluran tangan Sutan Sjahrir sehingga kapal-kapal India mulai datang ke Jawa untuk mengangkut beras tersebut. Pemberian bantuan beras ke India menjadi awal hubungan bilateral modern antara Indonesia dan India.

        Respon positif India atas kemerdekaan Indonesia kembali ditunjukkan ketika Perdana Menteri Jawaharlal Nehru menggagas penyelenggaraan Konferensi Asia (Asia Conference) pada 20-23 Januari 1949. Konferensi yang dilaksanakan di Kota New Delhi tersebut dihadiri oleh 21 negara Asia yang sebagian besar masih dijajah oleh bangsa Barat.

Konferensi Asia menghasilkan 4 (empat) tuntutan yaitu:

a) mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta

b) membentuk pemeintahan ad interim di Indonesia agar memiliki kekuatan politik di dalam atau luar negeri paling lambat pada 15 Maret 1949

c) menarik seluruh militer Belanda dari wilayah Indonesia

d) Belanda harus menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia paling lambat pada 1 Januari 1950.


3. Australia

        Aksi dukungan Australia terhadap Indonesia menguat ketika Waterside Workers Federation (WWF) bergabung dengan Australian Seamen’s Union in Sydney melakukan aksi mogok kerja dan memblokir pelabuhan tempat perusahaan Belanda beroperasi pada 24 September 1945. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Black Ban yang menyebabkan Belanda tidak dapat menirim logistik militernya ke Indonesia, setelah melancarkan aksi mogok kerja, Waterside Workers Federation (WWF) dan Australian Seamen’s Union in Sydney mengadakan rapat publik serta acara amal untuk membantu para pelaut Indonesia. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I, Australia menjadi salah satu negara yang mengancam Agresi Militer Belanda tersebut. Dengan cepat pemerintah Australia membawa kasus Agresi Militer Belanda I pada sidang Dewan Keamanan PBB. Australia mengajukan permintaan resmi kepaa PBB agar pertikaian antara RI-Belanda dibahas dalam Sidang Dewan Keamanan PBB. PBB pun memutuskan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mengawasi jalannya penghentian kontak senjata tersebut. Indonesia memilih Australia sebagai anggota komisi yang dibentuk oleh PBB tersebut yang diwakili oleh Richard Justice Kirby dan Thomas Critchley dalam perundingan Renville.

4. Lebanon 

        Lebanon merupakan salah satu negara awal yang mengakui eksistensi Republik Indonesia. Hubungan antara Indonesia dan Lebanon bermula dari diumumkannya pengakuan secara de jure atas kemerdekaan Indonesia pada 29 Juli 1947. Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Lebanon, Bechara El-Khoury.

5. Syiria (Suriah) 

        Pada tahun 1947 perwakilai Suriah di PBB yang bernama Faris Al-Khouri mendorong Dewan Keamanan PBB mendiskusikan Agresi Militer Belanda I di Indonesia dan mengajak negara-negara lain untuk bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia

6. Vatikan 

        Vatikan merupakan salah satu negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Vatikan memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada tanggal 6 Juli1947. Pengakuan Vatikan atas kedaulatan Indonesia ditandai dengan pembukuan kedutaan Vatikan bernama Apostolic Delegate di Jakarta. Melalui kedutaan tersebut, Vatikan menugaskan Geores Marie Joseph sebagai perwakilan resmi Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia dengan masa kerja 1947-1955. Pengakuan Vatikan terhadap kemerdekaan Indonesia dipandang cukup penting karena negara ini memiliki pengaruh kuat di Benua Eropa dan Amerika. Vatikan merupakan entitas suci yang menjadi rujukan seluruh umat Katolik di dunia.





 


A. Pengertian

Reformasi adalah suatu perubahan tatanan kehidupan lama dengan tatanan kehidupan yang baru yang dapat memperbaiki nasib bangsa dan mengangkat harkat  martabat bangsa. Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai segi kehidupan. Krisis politik, ekonomi, hukum, dan krisis sosial merupakan faktor-faktor yang mendorong lahirnya gerakan reformasi.

B. Latar Belakang

Ø  Krisis Ekonomi

Krisis moneter yang melanda Negara-negara di Asia Tenggara sejak bulan Juli 1996, juga mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Ekonomi Indonesia ternyata belum mampu untuk menghadapi krisi global tersebut. Berikut adalah permasalahan Ekonomi yang dihadapi kala itu :

1.      Kurs rupiah Rp.17.000/dolar AS

2.      Utang luar negeri US$ 138 miliar

3.      Pro kontra IMF

4.      Penandatanganan perjanjian IMF

5.      Menaikan harga BBM & listrik

6.      Harga bahan pokok meningkat

Ø  Krisis Politik

Kehidupan  politik Indonesia mulai memanas sejak pertengahan tahun 1996. Golkar yang selama lima kali  Pemilu meraih kemenangan berusaha sekuat tenaga dengan segala upaya untuk tetap memenangkan Pemilu pada bulan Mei 1997. Keberadaan PPP, Golkar, dan PDI  dianggap tidak mampu lagi  memenuhi aspirasi politik sebagian masyarakat. Dengan demikian, yang terjadi bukan demokrasi yang berarti dari, oleh, untuk rakyat, melainkan demokrasi yang berarti dari,oleh dan untuk penguasa. Pada masa orde baru, kehidupan politik sangat represif, yaitu adanya tekanan yang kuat dari pemerintah terhadap pihak oposisi atau orang-orang yang berpikir kritis. Selain itu, penyelenggaraan negara masa Orde Baru berjalan dengan cara tak transparan, banyak terjadi pembredelan pada media massa yang berseberangan dengan pemerintah hingga aspirasi rakyat pun tidak tersalurkan dengan baik. Hal itu menimbulkan ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah Orde Baru sampai muncullah kaum reformis.

Ø  Krisis Hukum

Pelaksanaan hukum pada masa orde terdapat banyak ketidakadilan. Misalnya,kekuasaan kehakiman ang dinyatakan pada pasal 24 UU 1945 bahwa kehakiman memiliki kekuasaan yang merdeka dan terlepas dari kekuasaan pemerintah. Dalam kenyataan,berada dibawah kekuasaan eksekutif. Masa Orde Baru juga banyak terjadi penyimpangan hukum, diantaranya yaitu :

1.  Hukum dijadikan hanya sebagai alat pembenaran atas kebijakan dan tindakan pemerintah.

2. Banyak nya rekayasa proses peradilan bila menyangkut penguasa, keluarga, maupun kerabatnya.

3. Kehakiman berada di bawah kekuasaan eksekutif dan cenderung melayani kehendak penguasa.

Ø  Krisis Sosial

Perkembangan ekonomi dan pembangunan nasional dianggap telah menimbulkan ketimpangan  sosial ekonomi yang lebih besar, monopoli sumber ekonomi oleh kelompok tertentu, serta ketidakmampuan menghilangkan kemiskinan  pada sebagian besar masyarakat. Masa Orde Baru, masyarakat Indonesia terbagi menjadi dua kelas, yaitu;

1. Kaum elit, merupakan elit politik dan para pengusaha keturunan Tionghoa yangdekat dengan pemerintahan Orde Baru maupun keluarga Cendana.

2. Rakyat kecil, yaitu masyarakat umum yang bukan kerabat atau kenalan keluarga Cendana. Kesenjangan sosial ekonomi terjadi di Indonesia yang menyebabkan kecemburuan, sampai menimbulkan kerusuhan dan penjarahan.

Ø  Krisis Kepercayaan

Krisis multidimensional yang melanda bangsa indonesia telah mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Soeharto. Ketidakmampuan pemerintah dalam membangun kehidupan politik yang demokratis, menegakkan pelaksanaan hukum dan sistem peradilan, dan pelaksanaan pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat banyak telah melahirkan krisis kepercayaan.

C. Munculnya Gerakan Reformasi

Sementara itu, melihat situasi politik dan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin tidak terkendali, rakyat menjadi semakin kritis menyatakan pemerintah Orde Baru tidak berhasil menciptakan kehidupan masyarakat yang makmur, adil, dan sejahtera. Oleh karena itu, munculnya gerakan reformasi bertujuan untuk memperbaharui tatanan kehidupan bermasyarakat - Sejarah Singkat Reformasi di Indonesia, berbangsa dan bernegara.

Agenda reformasi yang disuarakan para mahasiswa adalah sebagai berikut :

• Adili Soeharto dan kroni-kroninya.

• Amandemen UUD 1945

• Penghapusan Dwi Fungsi ABRI

• Otonomi daerah yang seluas-luasnya

• Supremasi hukum (upaya untuk menegakkan dan memposisikan hukum pada tempat yang

   tertinggi dari segala-galanya,

• Pemerintahan yang berisi dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).

D. Kronologi Jatuhnya Orde Baru

Ø  Awal bulan Maret 1998

Soeharto kembali terpilah sebagai Presiden Republik Indonesia melalu isidang umum MPR.Namun,kondisi perekonomian mengalami pemerosotan dan masalah sosial semakin menumpuk. Memasuki bulan Mei  1998 Para mahasiswa dari berbagia dearah menggelar aksi demostrasi yang menuntut :

1.      Turunkan harga sembako

2.      Penghapusan korupsi,kolusi dan nepotisme ( KKN )

3.      Turunkan Soeharto dari kursi kepresidenan

Ø  Pada tanggal 12 Mei 1998

Dalam aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Trisaktii, terjadilah bentrok dengan aparat keamanan yang menyebabkan tertembaknya 4 mahasiswa (Elang Mulyana,Hery Hartanto, Hendrawan Lesmana, dan Hafidin Royan) hingga tewas serta puluhan mahasiswa lainnya luka – luka.

Ø  Pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998

Di Jakarta terjadi kerusuhan massal dan penjarahan yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan masyarakat. Dan peristiwa tersebut puluhan toko hancur dibongkar massa dan isinya dijarah massa serta ratusan orang mati terbakar.

Ø  Pada tanggal 19 Mei 1998

Di Jakarta puluhan ribu mahasiswa telah berhasil menduduki gedung DRR / MPR. Di Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Pangku Alam  VII menyampaikan maklumat yang isinya menganjurkan kepada seluruh masyarakat untuk menggalang kesatuan dan persatuan bangsa.



Ø  Pada tanggal 20 Mei 1998

Presiden Soeharto mengundang tokoh – tokoh bangsa Indonesia untuk dimintai pertimbangan dalam rangka membentuk Dewan Reformasi yang diketuai oleh Presiden Soeharto namun mengalami kegagalan. Gedung DPR / MPR semakin penuh sesak dengan mahasiswa.

Ø  Pada tanggal 21 Mei 1998

Pukul 10.00 WIB bertempat di Istana Negara, Presiden Soehatrto meletakan jabatanya  sebagai Presiden dihadapan Mahkamah Agung. Berdasarkan pasal 8 UDD 1945, Presiden menunjuk Wakil Presiden  B.J Habibie untuk mengantikan menjadi Presiden yang pelantikannya dilakukan di depan Mahkamah Agung. Maka sejak saat itu Presiden Republik Indonesia dijabat oleh B.J Habibie serta sebagai tanda berakhirnya masa orde baru dan dimulainya masa reformasi.



E. Kehidupan Politik diawal Reformasi

1.  Pengangkatan Habibie menjadi Presiden RI

B.J. Habibie dilantik menjadi Presiden Indonesia pada 21 Mei 1998 setelah Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI. Presiden Habibie bertekad mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN.

2.   Kebebasan Berpendapat

Tidak seperti pada zaman Orba, kebebasan berpendapat pada masa pemerintahan Presiden Habibie mendapatkan dukungan pemerintah. Pemerintah mengizinkan rakyat mengadakan rapat umum maupun demonstrasi. Namun, untuk demonstrasi tetap perlu mendapatkan izin dari kepolisian.

3.   Masalah Dwi Fungsi ABRI

Dwi Fungsi ABRI membuat ABRI berperan dalam kehidupan militer dan juga dalam kehidupan sipil. Sehingga, ABRI punya peran lebih dalam kehidupan masyarakat sipil yang menyebabkan menguatnya peran negara pada masa Orba.

4.   Reformasi Bidang Hukum

Kebijakan hukum pada masa Orde Baru lebih bersifat konservatif dan elitis, artinya pelaksanaan hukum lebih mencerminkan keinginan pemerintah dan menjadi alat pelaksanaan ideologi dan program negara, membuat rakyat seakan-akan tidak punya hak hukum di Indonesia.

 



A. Pengertian

Demokrasi Terpimpin lahir karena adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 isinya adalah :

1. Pembubaran Konstituante (lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk

    membentuk Undang-Undang Dasar)

2. Tidak berlakunya UUDS 1950 dan Kembali ke UUD  1945

3. Pembentukan MPRS dan DPAS

        Dengan adanya Dekrit Presiden tersebut, maka berubahlah Sistem Pemerintahan di Indonesia dari Demokrasi Liberal ke Demokrasi Terpimpin. Pengertian Demokrasi Terpimpin adalah Suatu sistem Politik dimana seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara, dalam hal ini adalah Presiden.

B. Latar Belakang Demokrasi Terpimpin

Dari segi keamanan : Banyaknya gerakan sparatis pada masa Demokrasi Liberal, menyebabkan ketidakstabilan di bidang keamanan.

Dari segi perekonomian  : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa Demokrasi Liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat.

Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950.

 C. Ciri-ciri demokrasi terpimpin

1)     Kekuasaan presiden.

2)     Peran partai politik terbatas.

3)     Peran militer semakin besar.

4)     Anti kebebasan pers.

5)     Sentralisasi pemerintah pusat.

 D. Kondisi Politik Dalam Negeri Demokrasi Terpimpin

1.Pembentukan MPRS

MPRS dibentuk berdasarkan penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959. Ketua MPRS adalah Chaerul Saleh.

2. Pembentukan DPAS

    DPAS (Dewan Pertimbangan Agung Sementara) merupakan sebuah lembaga yang dibentuk sensiri oleh Presiden Soekarno. Salah satu ide dan keberhasilan serta bentuk pengabdian DPAS terhadap presiden ialah penetapan GBHN yg bersumber pada pidato Presiden tanggal 17 Agustus 1959 yg berjudul  ” Penemuan Kembali Revolusi Kita ” yang kemudian ditetapkan oleh DPA bukan MPRS.

 3. Pembentukan Bappenas

Sebelumnya Pada bulan Agustus 1959, dibentuk Dewan Perencanaan Nasional yang diketuai oleh Muh. Yamin. Pada tahun 1963, Depernas (Dewan Perencanaan Nasional) diganti menjadi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappernas) yang dipimpin langsung oleh presiden sendiri.

4. Pembentukan Front Nasional

Pembentukan Front Nasional memiliki tujuan untuk semakin memperbesar dan menguatkan kekuasaan presiden. Front Nasional dibentuk pada 31 Desember 1959 dimana tugasnya adalah sebagai lembaga negara yang melaksanakan pembangunan semesta indonesia.

5. Pembentukan DPR-GR

Presiden Soekarno membubarkan DPR hasil pemilu 1959 karena DPR menolak Anggaran Belanja Negara yang diajukan oleh Presiden. Kemudian, Presiden membentuk DPR Gotong Royong (DPR-GR) pada yanggal 24 Juni 1960.

E. Kondisi Politik Luar Negeri Masa Demokrasi Terpimpin

1. Tergabung bersama Oldefo dan Nefo

Oldefo (The Old Established Forces), yaitu dunia lama yang sudah mapan ekonominya, khususnya negara-negara Barat yang kapitalis. Nefo (The New Emerging Forces), yaitu negara-negara baru. Indonesia menjauhkan diri dari negara-negara kapitalis (blok oldefo) dan menjalin kerja sama dengan negara-negara komunis (blok nefo). Hal ini terlihat dengan terbentuknya Poros Jakarta – Peking (Indonesia – Cina) dan Poros Jakarta – Pnom Penh – Hanoi – Peking – Pyongyang ( Indonesia – Kamboja – Vietnam Utara – Cina – Korea Utara).

2. Konfrontasi dengan Malaysia

Pada tahun 1961 muncul rencana pembentukan negara Federasi Malaysia yang terdiri dari Persekutuan Tanah Melayu, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah. Rencana tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno karena dianggap sebagai proyek neokolonialisme dan dapat membahayakan revolusi Indonesia yang belum selesai. Keberatan atas pembentukan Federasi Malaysia juga muncul dari Filipina yang mengklaim daerah Sabah sebagai wilayah negaranya.

3. Merebut Irian Barat

Dalam rangka persiapan kekuatan militer untuk merebut kembali Irian Barat, pemerintah RI mencari bantuan senjata ke luar negeri. Pada awalnya usaha ini dilakukan kepada negara-negara Blok Barat, khususnya Amerika Serikat, namun tidak membawa hasil yang memuaskan. Kemudian upaya ini dialihkan ke negara-negara Blok Timur (komunis), terutama ke Uni Soviet. Pada akhirnya dikirimkanya misi yang dipimpin oleh A.H Nasution untuk membeli senjata ke Uni Soviet.

4. PelaksanaanGames of The New Emerging Forces (GANEFO)

Ganefo merupakan pesta olahraga untuk negara-negara yang termasuk Nefo. Ganefo diadakan atas prakarsa Presiden Soekarno sebagai tandingan dari Olimpiade. Hal ini dilatarbelakangi oleh peristitwa sebelumnya yang mana Indonesia diskors oleh komite Olimpade dikarenakan pada saat Asian Games tahun 1962 di Jakarta, negara Israel dan Taiwan tidak boleh mengikuti pertandingan olahraga tersebut.

Ganefo dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 10-23 November 1963 yang diikuti oleh 53 negara. Penyelenggaraan Ganefo diboikot oleh negara-negara Barat. Meski demikian Ganefo tetap berlangsung. Motto dari Ganefo adalah “Maju Terus Jangan Mundur”. Lima besar perolehan medali pada Ganefo yaitu: Cina, Uni Soviet, Indonesia, Republik Arab Bersatu, dan Korea Utara.

5. Pelaksanaan Conference of The New Emerging Forces (CONEFO)

Pelaksanaan Conference of The New Emerging Forces (CONEFO) merupakan gagasan Presiden Soekarno untuk membentuk suatu kekuatan blok baru yang beranggotakan negara-negara berkembang untuk menyaingi blok barat dan blok timur. Conefo merupakan tandingan terhada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada saat itu, Presiden Soekarno menentang PBB dikarenakan PBB justru dikuasai oleh negara adidaya.

6. Indonesia Keluar dari PBB

Ditetapkannya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, menyulut kemarahan Indonesia. Hingga akhirnya pada 15 September 1965 Indonesia keluar dari PBB karena Soekarno beranggapan bahwa PBB berpihak pada Blok Barat. Berikut ini merupakan alasan Indonesia keluar dari PBB:

- Presiden Soekarno menganggap bahwa markas PBB (New York) tidak netral. Seharusnya

  diluar blok Amerika dan blok Uni Soviet

- PBB dianggap lamban dalam menyikapi konflik antara negara

- Adanya hak veto yang dimiliki oleh lima negara yakni Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet

  (Rusia) Perancis dan Cina mencerminkan dominasi negara tertentu

- Banyak kebijakan yang menguntungkan negara-negara Barat.

 F. Kondisi Ekonomi Pada Masa Demokrasi Terpimpin

1. Pembentukan Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Upaya perbaikan perekonomian Indonesia dilakukan dengan pembentukan Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada 15 Agustus 1959 yang dipimpin Moh. Yamin. Dapernas kemudian menyusun program kerjanya berupa pola pembangunan nasional yang disebut sebagai Pola Pembangunan Semesta Berencana dengan mempertimbangkan faktor pembiayaan dan waktu pelaksanaan pembangunan. Pola Pembangunan Semesta dan Berencana terdiri atas Blueprint tripola yaitu proyek pembangunan, pola penjelasan pembangunan dan pola pembiayaan pembangunan.

Pada tahun 1963, juga dibentuk Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin Presiden Soekarno sebagai pengganti Depernas.

Tugas Bappenas adalah menyusun rencana pembangunan jangka panjang maupun pendek.

2. Penurunan nilai uang

Untuk membendung inflasi dan mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, pada tanggal 25 Agustus 1950 pemerintah mengumumkan penurunan nilai uang. Untuk uang kertas pecahan Rp. 500 nilainya akan berubah menjadi Rp 50 begitu seterusnya. Selain itu, semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000 akan dibekukan.

3. Melaksanakan Deklarasi Ekonomi (Dekon)

Pada tanggal 28 Maret 1963 dikeluarkan landasan baru bagi perbaikan ekonomi secara menyeluruh yaitu Deklarasi Ekonomi (Dekon).

Tujuan dibentuknya Dekon adalah untuk menciptakan ekonomi yang bersifat nasional, demokratis, dan bebas dari imperialisme. Meski begitu, dalam pelaksanaannya Dekon tidak mampu mengatasi kesulitan ekonomi dan masalah inflasi, Dekon justru mengakibatkan perekonomian Indonesia stagnan. Masalah perekonomian diatur atau dipegang oleh pemerintah sedangkan prinsip-prinsip dasar ekonomi banyak diabaikan.

4. Pembangunan Proyek Mercusuar

Keadaan perekonomian semakin buruk karena pembengkakan biaya proyek mercusuar. Proyek Mercusuar Soekarno adalah proyek pembangunan ibukota agar mendapat perhatian dari luar negeri. Untuk memfasilitasi Ganefo (Games of the New Emerging Forces) sebagai tandingan dari Olimpiade, pemerintah membangun proyek besar seperti gedung CONEFO yang sekarang dikenal sebagai DPR, MPR, DPD DKI Jakarta, Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, pembangunan Monumen Nasional (Monas), dan pusat pertokoan Sarinah.

 G. Penyimpangan-Penyimpangan Demokrasi Terpimpin

1. Membubarkan DPR hasil pemilu pada 4 Juni 1960, kemudian membentuk DPR-GR

    karena menolak anggaran belanja negara yang diusulkan pemerintah.

2. Membubarkan konstituante hasil pemilu melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959

3. Pembentukan MPRS yang disusun oleh presiden sendiri

4. Mengatur setiap sendi kehidupan negara melalui Manipol, Usdek, dan Nasakom

5. Mengangkat Ketua MPRS dan Ketua DPR-GR sebagai Menteri kabinet kerja.

6. Meningkatkan peranan ABRI dalam politik nasional


A. Strategi Perjuangan Mengahadapi Sekutu dan Belanda
Secara umum ada 2 bentuk strategi perjuangan menghadapi ancaman Belanda dan sekutu.
1. Perjuangan bersenjata / Fisik . Perjuangan ini terjadi setelah proklamasi kemerdekaan. Belanda dan sekutunya masih tidak menerima bahwa Indonesia telah merdeka.
2. Perjuangan melalui perundingan / diplomasi. Perjuangan ini dilakukan dengan perundingan untuk menyelesaikan masalah. Upaya dengan melakukan perundingan dianggap lebih efektif karena tidak memakan banyak korban jiwa.

     B. Kedatangan Sekutu
Kedatangan sekutu ke Indonesia dikarenakan Sekutu menganggap bahwa Negara –Negara bekas jajahan Jepang merupakan tangung jawab Sekutu untuk melakukan pelucutan senjata. Kemudian pada tanggal 29 September 1945 tibalah pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI ( Allied Forces Netherland East Indies / pasukan sekutu yang bertugas di Indonesia untuk menerima kekuasaan dari Jepang)  di Tanjung Priok, Jakarta di bawah pimpinan Letjend Sir Philip Chistison.
Pasukan AFNEI di bagi menjadi 3 divisi yang bertempat di Jakarta, Surabaya dan Medan. Kedatangan sekutu ke Indonesia semula mendapatkan sambutan hangat dari rakyat Indonesia, seperti kedatangan Jepang dulu. Akan tetapi setelah diketahui mereka datang disertai orang-orang NICA (Netherlands Indies Civil Administration / Pemerintahan Sipil Hindia Belanda), sikap rakyat Indonesia berubah menjadi penuh kecurigaan dan terjadilah pertempuran diberbagai daerah.

C. Perjuangan Bersenjata diberbagai Daerah
1. Pertempuran Surabaya, 10 November 1945
Sebab ; Ultimatum sekutu tgl 9 November agar semua pimpinan dan orang-orang yang bersenjata harus lapor, menyerahkan senjata, menyerahkan diri ditempat yang ditentukan dengan batas waktu tgl 10 November jam 06.00. Akan tetapi seluruh Arek-arek Surabaya menolak Ultimatum tersebut hingga terjadilah pertempuran hebat untuk pertama kalinya pasca Indonesia Merdeka hingga menewaskan Jenderal tentara Inggris, Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby di Surabaya.
Tokoh : - Moestopo
- Bung Tomo
- Mayjend Sungkono
- Abdul Wahab

2. Pertempuran Ambarawa 20 November 1945 - 15 Desember 1945
Pertempuran Ambarawa ini terjadi pada tanggal 20 November 1945. Dan berakhir hingga tanggal 15 Desember 1945, antara pasukan TKR (Indonesia) melawan pasukan sekutu (Inggris). Penyebab terjadinya pertempuran ambarawa adalah karena pihak sekutu ternyata tidak menepati perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Sehingga pada tanggal 20 November 1945, meletuslah pertempuran Ambarawa yaitu pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak sekutu dari Inggris.
Tokoh : - Letkol Isdiman
-  Kolonel Sudirman
-  M Sarbini 

3. Pertempuran Medan Area 1 Desember 1945
pertempuran Medan area diawali dengan kedatangan pasukan Sekutu pada 9 Oktober 1945 di Sumatra Utara. Pasukan tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal T. E. D Kelly. Ada beberapa Hal yang menyebabkan terjadinya pertempuran ini yaitu
1. Kedatangan Tentara Inggris (Sekutu) yang diboncengi NICA
2. Ulah seorang penghuni yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih yang  dipakai pemuda Indonesia
3. Inggris mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia
  Inggris mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia supaya menyerahkan senjata kepada Sekutu, tetapi ultimatum tersebut tidak pernah dihiraukan. Sekutu kemudian memasang papan yang bertuliskan “  Fixed Boundaries Medan Area” atau batas resmi wilayah Medan di berbagai pinggiran dari kota Medan. Hal ini merupakan tantangan bagi para pemuda Medan.
Tokoh-tokoh
1.   Brig. T.E.D. Kelly
2.   Ahmad Tahir
3.   Teuku Muhammad Hasan
4.   Abdul Karim M. S.
5.   Dr. Ferdinand Lumbantobing
6.   R. Soehardjo Hardjowardojo
7.   Jenderal Suhardjo Hardjo Wadjojo

4. Bandung Lautan Api
Istilah Peristiwa Bandung Lautan Api dikenal berkat sebuah artikel yang ditulis oleh Atje Bastaman, seorang wartawan muda dari kotan Soeara Merdeka. Ia melihat peristiwa terbakarnya Bandung dari atas bukit Gunung Leutik, Garut. Ketika tiba di Tasikmalaya keesokan harinya, Atje langsung menulis apa yang disaksikan tersebut dan memberi judul tulisannya Bandoeng Djadi Laoetan Api yang terbit di harian tersebut pada 26 Maret 1946. Karena keterbatasan ruangan di koran tersebut maka judul artikelnya harus dipangkas menjadi Bandoeng Laoetan Api.
Tentara Sekutu memasuki Bandung pada tanggal 17 Oktober 1945 yang dipimpin Jendral Hawtorn. Kedatangan sekutu diboncengi oleh NICA yang dipimpin Kapten Gray. Untuk memperlancar pasukan Sekutu memasuki Bandung, tentara Jepang melakukan pembersihan kota. Pada tanggal 21 November 1945, sekutu mengeluarkan ultimatum agar rakyat bandung mengosongkan Bandung bagian utara selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Akan tetapi, ultimatum tersebut ditolak rakyat di Bandung. Akibatnya, terjadi pertempuran besar dan kecil di beberapa tempat di Bandung.
Tokoh-tokoh
1.      Kolonel Abdul Haris Nasution
2.      Muhammad Toha
3.      Mayor Rukana
4.      Atje Bastaman
5.      Sutan Sjahrir

















1. Pengertian

   Orde Baru adalah sebutan untuk masa pemerintahan presiden Soeharto di Indonesia selama 32 tahun. Masa orde baru (ORBA)  dimulai sejak tahun 1966 menggantikan orde lama yang merujuk pada era pemerintahan presiden Soekarno. Dengan kata lain Orde Baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

2. Latar Belakang

            Orde baru sendiri lahir sebagai upaya untuk mengoreksi total penyimpangan yang dilakukan pada masa Orde Lama. Di masa ini dimulai penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat, bangsa, dan negara Indonesia, melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, serta menyusun kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan.

·         Aksi-aksi Tritura

        Pada masa transisi ini terjadi pergolakan politik, militer hingga lingkup sosial masyarakat. Hal ini terbukti ketika para mahasiswa Jakarta membentuk organisasi federasi bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Berbagai tindakan pemuda dan mashasiswa pada masa transisi ini salah satunya aksi Tritura, dimana ada 3 tuntutan yang disampaikan kepada pemerintah, yaitu pembubaran PKI, Pembersihan Kabinet dari Unsur G30 S PKI, dan Penurunan Harga atau Perbaikan Ekonomi.

·         Surat Perintah Sebelas Maret atau (Supersemar)

      Surat perintah ini diterbitkan sebagai akibat demonstrasi yang dilakukan pemuda dan mahasiswa pada tanggal 11 Maret 1966, sehingga pemerintah mengadakankan sidang kabinet dalam mengatasi krisis. Tujuan dikeluarkannya Supersemar adalah untuk memberi tugas pada Panglima Angkatan Darat saat yang bertugas saat itu adalah Mayjen Soeharto untuk memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk memulihkan keamanan, ketertiban, dan kestabilan dalam melaksanakan jalannya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tokoh dibalik perumusan Supersemar adalah Muhamad Yusuf, Amir Machmud, dan Basuki Rachmat.



·         Dualisme Kepemimpinan Nasional

        Supersemar membuat Soeharto memiliki kuasa sebagai pelaksana pemerintahan, sementara Soekarno sebagai pimpinan pemerintahan. Hal ini menimbulkan Dualisme Kepemimpinan Nasional yang akhirnya menyebabkan pertentangan politik di kalangan masyarakat, sehingga muncullah pendukung Soekarno dan pendukung Soeharto. Demi menjaga keutuhan bangsa, Soekarno menyerahkan kekuasan pemerintahan kepada pengemban Tap. MPRS. No. IX/MPRS/1966 Jenderal Soeharto pada 23 Februari 1967. Pada 7-12 Maret 1967 diselenggarakan Sidang Istimewa MPRS dengan tema utama mengenai pertanggungjawaban presiden selaku mandataris MPRS.

·         Masa Peralihan dari Soekarno ke Soeharto

    Akhirnya, pada 22 Juni 1966, Presiden Soekarno menyampaikan pidato NAWAKSARA dalam persidangan MPRS berisi 9 persoalan yang dianggap penting. Lantaran isi pidato tersebut hanya sedikit yang menyinggung tentang G 30 S PKI maka pengabaian peristiwa itu tak memuaskan anggota MPRS. Pada 10 Januari 1967, Presiden menyampaikan surat kepada pimpinan MPRS yang berisi Pelengkap Nawaksara (Pelnawaksara). Setelah membahas pelnawaksara pada 21 Januari 1967, pimpinan MPRS menyatakan bahwa Presiden telah alpa dalam memenuhi ketentuan konstitusional. Sehingga, pada 22 Februari 1967 tepat pukul 19.30 Presiden Soekarno membacakan pengumuman resmi pengunduran dirinya.Maka pada 12 Maret 1967 Jenderal Soeharto dilantik menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia oleh Ketua MPRS Jenderal Abdul Haris Nasution. Setelah setahun menjadi pejabat presiden, Soeharto dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada tanggal 27 Maret 1968 dalam Sidang Umum V MPRS.

3. Kebijakan Politik Masa Orde Baru

Ø  Politik Dalam Negeri Masa Orde Baru

·         Pelaksanaan pemilu 1971

    Pemilu yang sudah diatur melalui SI MPR 1967 yang menetapkan pemilu akan dilaksanakan pada tahun 1971 ini, berbeda dengan pemilu pada tahun 1955 (orde revolusi atau orde lama). Pada pemilu ini para pejabat pemerintah hanya berpihak kepada salah satu peserta Pemilu yaitu Golkar. Dan kamu tahu? Golkar lah yang selalu memenangkan pemilu di tahun selanjutnya yaitu tahun 1977, 1982, 1987, 1992, hingga 1997.

·         Pembubaran Partai Komunis Indonesia

    PKI beserta organisasi-organisasi pendukungnya, baik di tengah-tengah masyarakat maupun di dalam kabinet pemerintahan.

·         Penyederhanaan partai politik

    Partai Politik yang awalnya ada 10 partai menjadi hanya 3 partai politik saja, yaitu Golkar, PDI, dan PPP.

·         Dwifungsi ABRI

    Dwifungsi ABRI adalah peran ganda ABRI sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan sebagai kekuatan sosial politik. Sebagai kekuatan sosial politik ABRI diarahkan untuk mampu berperan secara aktif dalam pembangunan nasional. ABRI juga memiliki wakil dalam MPR yang dikenal sebagai Fraksi ABRI, sehingga kedudukannya pada masa Orde Baru sangat dominan.

·         Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4)

    Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P-4 atau Ekaprasetya Pancakarsa, bertujuan untuk memberi pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat mengenai Pancasila. Semua organisasi tidak boleh menggunakan ideologi selain Pancasila, bahkan dilakukan penataran P4 untuk para pegawai negeri sipil.

Ø  Politik Luar Negeri Masa Orde Baru

·         Indonesia kembali menjadi anggota PBB

Pada saat Indonesia keluar dari PBB tanggal 7 Agustus 1965, Indonesia terkucil dari pergaulan internasional dan menyulitkan Indonesia secara ekonomi maupun politik dunia. Keadaan ini kemudian mendorong Indonesia untuk kembali menjadi anggota PBB berdasarkan hasil sidang DPRGR. Pada tanggal 28 September 1966, Indonesia resmi aktif kembali menjadi anggota PBB.

·         Pemulihan hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Singapura dan pemutusan hubungan dengan Tiongkok

Pada tahun 1965, terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Untuk memulihkan hubungan diplomatik, dilakukan penandatanganan perjanjian antara Indonesia yang diwakili oleh Adam Malik dan Malaysia yang diwakili oleh Tun Abdul Razak pada tanggal 11 Agustus 1966 di Jakarta. Pemulihan hubungan diplomatik dengan Singapura melalui pengakuan kemerdekaan Singapura pada tanggal 2 Juni 1966.

·         Memperkuat Kerja Sama Regional dan Internasional

Indonesia menggagas berdirian ASEAN dan beberapa kebijakan politik luar negeri, seperti: Pengakuan terhadap negara Singapura, Memperbaiki hubungan dengan negara Malaysia, Masuk Indonesia kembali menjadi anggota PBB.

4. Kebijakan ekonomi

Ø  Trilogi Pembangunan

Menciptakan program trilogi pembangunan dengan tujuannya adalah agar ekonomi masyarakat merata di seluruh Indonesia. Trilogi Pembangunan tersebut meliputi ;

·         Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat

·         Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

·         Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis

Ø  Repelita (Rencana Pembangunan Lima tahun)

Pada tahun 1969, pemerintah ORBA mencanangkan program Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) untuk meningkatkan ekonomi nasional. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil menjadi negara dengan swasembada besar. Repelita ini akan dievaluasi selama lima tahun sekali.

1.      Repelita I (1 April 1969-31 Maret 1974) Sasaran utama yang hendak dicapai adalah pangan, sandang, papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pertumbuhan ekonomi berhasil naik 3 sampai 5,7% sedangkan tingkat inflasi menurun menjadi 47,8%. Namun, kebijakan pada masa Repelita I dianggap menguntungkan investor Jepang dan golongan orang-orang kaya saja. Hal ini memicu timbulnya peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).

2.      Repelita II (1 April 1974 - 31 Maret 1979) menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.

3.      Repelita III (1 April 1979-31 Maret 1984) Pelita III menekankan pada Trilogi Pembangunan dengan menekankan pada azas pemerataan, yaitu:

·         Pemerataan kebutuhan pokok rakyat , terutama pangan, sandang, dan perumahan.

·         Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan.

·         Pemerataan pembagian pendapatan.

·         Pemerataan perluasan kesempatan kerja.

·         Pemerataan usaha, khususnya bagi golongan ekonomi lemah.

·         Pemerataan kesempatan berpartisipasi, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.

·         Pemerataan pembangunan antar daerah.

·         Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

5.  Repelita IV (1 April 1984 - 31 Maret 1989) menitikberatkan pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin sendiri.

5. Repelita V (1 April 1989-31 Maret 1994) menitikberatkan pada sektor pertanian untuk memantapkan swasembada pangan, meningkatkan produksi pertanian, menyerap tenaga kerja, dan mampu menghasilkan mesin-mesin sendiri.

6. Repelita VI dimulai pada tahun 1994, pembangunan berfokus pada pada sektor ekonomi, industri, pertanian dan peningkatan sumber daya manusia.

Ø  Revolusi Hijau

Revolusi Hijau pada dasarnya adalah suatu perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional (peasant) ke cara modern (farmers). Untuk meningkatkan produksi pertanian umumnya dilakukan empat usaha pokok, yang terdiri dari:

a. Intensifikasi, yaitu penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pertanian untuk memanfaatkan lahan yang ada guna memperoleh hasil yang optimal; Perubahan ini dilakukan melalui program Panca Usaha Tani yang terdiri dari:

·         Pemilihan Bibit Unggul

·         Pengolahan Tanah yang baik

·         Pemupukan

·         Irigasi

·         Pemberantasan Hama

b. Ekstentifikasi, yaitu perluasan lahan pertanian untuk memperoleh hasil pertanian yang lebih optimal;

c. Diversifikasi (keanekaragaman usaha tani);

d. Rehabilitasi (pemulihan daya produktivitas sumber daya pertanian yang sudah kritis

5. Kebijakan Sosial

Pemerintah orde baru mengeluarkan beberapa kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat pada masa itu, diantaranya:

o   Pencanangan program Keluarga Berencana (KB)

o   Program transmigrasi

o   Gerakan wajib belajar

o   Gerakan orang tua asuh

6. Kelebihan dan kekurangan Masa Orde Baru

1. Kelebihan Masa Orde Baru

a.      Pada tahun 1996 terjadi peningkatan Gros Domestic produk perkapita Indonesia dari $70 menjadi $100.

b.      Berhasil mencanangkan Program Keluarga Berencana (KB) yang sebelumnya tidak pernah ada.

c.       Meningkatnya jumlah masyarakat yang bisa membaca dan menulis.

d.      Anka pengangguran mengalami penurunan.

e.      Kebutuhan rakyat akan pangan, sandang, dan papan cukup terpenuhi dengan baik.

f.        Meningkatnya stabilitas dan keamanan negara Indonesia.

g.      Mencanangkan program Wajib Belajar dan gerakan nasional orang tua asuh.

h.      Mencanangkan dan menyukseskan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA).

i.        Bekerjasama dengan pihak asing di bidang ekonomi dan menerima pinjaman dana dari luar negeri.

2. Kekurangan Masa Orde Baru

a.      Terjadi korupsi besar-besara di semua lapisan masyarakat.

b.      Pembangunan hanya terpusat di ibu kota sehingga terjadi kesenjangan yang cukup besar antara masyarakat kota dengan di desa.

c.       Kekuasaan yang terus bekelanjutan tanpa adanya tanda-tanda akan mundur.

d.      Masyarakat di berbagai daerah, misalnya Papua dan Aceh, merasa tidak puas dengan pemerintah karena tidak tersentuh pembangunan.

e.      Banyak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM karena pemerintah pada masa itu menganggap bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah.

f.        Terjadi pengekangan kebebasan pers dan berpendapat, dimana banyak perusahaan koran dan majalah yang ditutup paksa karena tidak sepaham dengan pemerintah.

g.      Tingginya kesenjangan sosial di masyarakat, dimana orang kaya mendapat hak lebih baik dibanding orang yang tak mampu.