:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label XI. Tampilkan semua postingan
 1. Sebelum adanya kolonialisme, aktivitas perdagangan antar bangsa sudah berjalan. Jalur yang                 terkenal yang menghubungkan berbagai bangsa adalah ..
A. Jalur emas
B. Jalur sutera
C. Jalur rempah
D. Jalur laut
E. Jalur giok

2. Kota yang bertahan menjadi pusat perdagangan yang ramai sampai abad ke XV adalah..
A. Byzantium
B. Konstantinopel
C. Samarkand
D. Alexandria
E. Changan

3. Bangsa yang mempelopori perkembangan teknologi maritim sejak abad XV adalah...
A. Portugis
C. Inggris
D. Belanda
E. Arab
B. Spanyol

4. Salah satu motivasi pelayaran bangsa Eropa adalah adanya semangat 3G. Di bawah ini yang bukan         termasuk semangat 3G adalah..
A. Gold
B. Glory
C. Gospel
D. Glory
E. Gotham

5. Pada mulanya tujuan awal kedatangan bangsa eropa bukanlah melakukan  penjajahan  melainkan ..
A. Bertani
B. Berkebun
C. Berdagang
D. Berkuasa
E. Berlayar
6. Sebelum melakukan pelayaran bangsa Eropa berkuasa di wilayah Konstantinopel sampai bangsa             Eropa kalah melawan Turki Ottoman dalam perang ..
A. Perang Padri
B. Perang Christ
C. Perang Salib
D. World war
E. Perang dingin

7. Teori ekonomi yang menyatakan kesejahteraan suatu negara ditentukan oleh banyaknya aset atau             modal yang dimiliki adalah teori ..
A. Merkantilisme
B. Humanisme
C. Historis
D. Klasik
E. Ekonomi mikro

8. Salah satu factor pendorong dalam pelayaran bangsa Eropa adalag adanya semangat 3G. Yang                 dimaksud Gold dalam semangat 3G pelayaran bangsa Eropa adalah ..
A. Semangat mencari kekayaan
B. Semangat mencari kejayaan
C. Semangat menyebarkan agama katolik
D. Semangat melakukan pelayaran terjauh
E. Semangat memperluas wilayah kekuasaan

9. Yang dimaksud Glory dalam semangat 3G pelayaran bangsa Eropa adalah ..
A. Semangat mencari kekayaan
B. Semangat mencari kejayaan
C. Semangat menyebarkan agama katolik
D. Semangat melakukan pelayaran terjauh
E. Semangat memperluas wilayah kekuasaan

10. Yang dimaksud Gospel dalam semangat 3G pelayaran bangsa Eropa adalah ..
A. Semangat mencari kekayaan
B. Semangat mencari kejayaan
C. Semangat menyebarkan agama katolik
D. Semangat melakukan pelayaran terjauh
E. Semangat memperluas wilayah kekuasaan

11. Bangsa Eropa pertama yang berhasil menginjakkan kaki ke tanah Indonesia adalah bangsa ...
A. Portugis
B. Spanyol
C. Inggris
D. Belanda
E. Arab

12. Jatuhnya konstantinopel membuat banyak bangsa Eropa yang melakukan pelayaran hingga ke                 Indonesia. Ketika Bangsa Portugis berlayar ke Indonesia, pelayaran pertamanya dipimpin oleh..
A. Sebastian del Cano
B. Ferdinand magaelhaens
C. Alfonso de Albuquerque
D. Cornelis de Houtman
E. Alejandro Lilo da Lopez

13. Ketika Bangsa Spanyol berlayar ke Indonesia, pelayaran pertama dipimpin oleh..
A. Sebastian del Cano
B. Ferdinand magaelhaens
C. Alfonso de Albuquerque
D. Cornelis de Houtman
E. Alejandro Lilo da Lopez

14. Ketika Bangsa Belanda berlayar ke Indonesia, pelayaran pertama dipimpin oleh..
A. Sebastian del Cano
B. Ferdinand magaelhaens
C. Alfonso de Albuquerque
D. Cornelis de Houtman
E. Alejandro Lilo da Lopez

15. Setelah menguasai Malaka, bangsa Portugis mengadakan hibungan dengan kerajaan Sunda atau             Pajajaran yang tertuang dalam prasasti ...
A. Prasasasti kebon kopi
B. Prasasti Tarumanegara
C. Prasasti Tugu
D. Prasasti Ciareteun
E. Prasasti Padrao

16. Meskipun sudah memiliki kontrak dagang dengan kerajaan Sunda, namun kedatangan Portugis             ditentang keras oleh kesultanan ...
A. Banten
B. Demak
C. Gowa-Tallo
D. Samudra Pasai
E. Perlak

17. Di bawah ini merupakan yang mendorong penjelajahan samudra bangsa Eropa, kecuali ...
A. Jatuhnya Konstantinopel
B. Berkembangnya teknologi pelayaran
C. Berkembangnya paham merkantilisme di Eropa
D. Semangat untuk mendapatkan 3G (gold, glory.gospel)
E. Memperebutkan jalur sutra yang menghubungkan Asia

18. pada awal kedatangannya, pelayaran Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman hanya                 berhasil membawa sedikit rempah-rempah karena …
A. hasil bumi berupa rempah di indonesia pada masa itu mengalami penurunan jumlah
B. Belanda kalah saing dengan para pedagang Arab dan Persia
C. adanya konflik antara Belanda dengan Portugis di Indonesia 
D. Sikap arogan Belanda yang menimbulkan konflik dengan penguasa Banten
E. adanya konflik internal di antara sesama pedagang pribumi

19. Ketika Spanyol tiba di Indonesia, konflik dengan Portugis yang sudah dulu tiba tidak dapat                     dihindari. Konflik baru berakhir ketika ditandatangani perjanjian..
A. Tordesilas
B. Roem-Royen
C. Saragosa
D. Padrao
E. London convention

20. Perserikatan dagang Hindia Timur dibentuk pada tahun 1602 dengan tujuan di bawah ini kecuali...
A. Menghindari persaingan antar pedagang Belanda
B. Memperkuat posisi Belanda dalam persaingan global
C. Memonopoli perdagangan di Nusantara
D. Membantu pemerintah Belanda melawan pendudukan Spanyol
E. Menyatukan seluruh pedagang di Eropa

21. Di bawah ini yang bukan termasuk hak oktroi atau hak istimewa VOC adalah ..
A. Memberi hak khusus kepada petani di Nusantara
B. Mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri
C. Mengumumkan perang
D. Memiliki angkatan perang sendiri
E. Menjadi wakil sah pemerintah Belanda di Asia

22. salah satu kebijakan VOC di Indonesia adalah memusnahkan tanaman rempah-rempah dalam                 rangka menekan kelebihan produksinya. Kebijakan ini dikenal dengan nama ..
A. Hongi tochten
B. Contingenten
C. Verplichte Leverantie
D. ekstirpasi
E. devide et impera

23. yang dimaksud dengan kebijakan contingenten adalah..
A. pajak wajib berupa hasil bumi yang langsung dibayarkan ke VOC
B. penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah ditentukan
C. menentukan luas areal penanaman rempah serta  menentukan jumlah tanaman
D. menebang kelebihan jumlah tanaman agar produksinya tidak berlebihan
E. mewajibkan setiap kerajaan yang terikat dengan VOC untuk menyerahkan upeti

24. Guberbur Jenderal Van den Bosch memberlakukan preangerstelsel di Tanah Sunda. Perbedaan antara Preangerstelsel dengan cultuurstelsel terletak pada..
A. keterlibatan para bangsawan
B. jumlah pajak hasil bumi yang ditentukan
C. jenis komoditi yang ditanam
D. pribumi yang dijadikan budak
E. harga komoditi menurut VOC

25. Thomas Stamford Raffles selain mengeluarkan berbagai  kebijakan, ia juga menyumbangkan beberapa hal bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya di Indonesia seperti di bawah ini, kecuali..
A. menyelidiki flora dan fauna Nusantara
B. meneliti peninggalan kuno seperti candi Borobudur
C. meneliti dokumen sejarah Melayu
D. menulis buku yang berjudul History of Java
E. mendirikan Rumah sakit pertama di Nusantara

26. Selama Herman Willem Daendels memerintah di Hindia Belanda banyak kebijakan yang ia buat,             diantarannya adalah di bawah ini, kecuali ...
A. Mendirikan pabrik gula terbesar di pulau Jawa
B. Membangun jalan raya pos dari Anyer sampai Panarukan
C. Mendirikan benteng pertahanan
D. Membenti angkatan perang
E. Membagi pulau jawa menjadi 9 prefektur

27. Berikut yang tidak termasuk keberhasilan pieter both selama menjabat sebagai gubernur jenderal             VOC adalah ...
A. Menaklukan pulau Timor
B. Mengusir Spanyol dari Tidore
C. Membangun Markas besar VOC di Ambon
D. Mengadakan perjanjian dagang dengan Maluku
E. Mewujudkan monopoli perdagangan rempah rempah di Maluku

28. Strategi Belanda yang paling ampuh menghadapi perlawanan dari para penguasa lokal adalah dengan melakukan politik ...
A. Pecah belah
B. Aliansi
C. Alienasi
D. Etis
E. Balas budi

29. Cara yang dinilai oleh gubernur jenderal J.P. coen sebagai satu-satunya cara yang paling cepat dan         tepat untuk mewujudkan monopoli perdagangan pala di Banda adalah...
A. Mengusir dan melenyapkan penduduk asli Banda
B. Memperkuat pertahanan dan ancaman Inggris
C. Mengusir orang Inggris di Pulau Run
D. Menerapkan kebijakan ekstirpasi
E. Melanjutkan pelayaran Hongi
30. Gubernur jenderal yang dianggap sebagai peletak dasar kebijakan penjajahan oleh VOC (Belanda)         di Indonesia adalah ....
A. J. P. Coen
B. H. W. Daendels
C. Pieter Both
D. J. V. Den Bosch
E. Gerard Reynst

31. Jenis kapal layar yang dikembangkan bangsa Portugis sehingga memungkinkan untuk menjelajah         samudra pada abad XV-XVI adalah..
A. Jung
B. Karavel
C. galiung
D. Pinisi
E. Kerakah

32. pernyataan berikut yang tidak  terkait dengan Perjanjian Saragosa yang mengakhiri kkonflik                     Spanyol dan Portugis adalah.. 
A. Kepulauan Maluku masuk wilayah kekuasaan Portugis 
B. perjanjian tersebut merupakan penegasan dari perjanjian Tordessilas 1494
C. perjanjian tersebut hanya memperbolehkan Spanyol menyebarkan agama Kristen
D. Perjanjian tersebut mengharuskan Spanyol meninggalkan Maluku dan mendapatkan Filipina
E. perjanjian tersebut menentukan wilayah barat merupakan kekuasaan Spanyol dan wilayah timur kekuasaan Portugis 

33. Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan tujuan dari pembentukan Veerenigde Oostindische             Compagnie (VOC) adalah..
A. membantu pemerintah Belanda yang sedang terlibat perang dengan Spanyol
B. memperkuat Belanda dalam persaingan dagang dengan bangsa-bangsa Eropa lain
C. membangun persatuan para pedagang untuk membentuk negara koloni
D. menghindari persaingan yang tidak sehat di antara para pedagang Belanda 
E. mendapatkan monopoli perdagangan baik komoditas untuk ekspor maupun impor 

34. Tujuan VOC terlibat dalam urusan internal kerajaan-kerajaan di Nusantara adalah…
A. Diutus oleh pemerintah Belanda untuk menyelesaikan berbagai masalah internal kerajaan 
B. Membantu sebagai kongsi dagang yang aktif di perairan Nusantara
C. Memecah belah kekuasaan kerajaan-kerajaan pribumi
D. Ingin menerapkan praktik monopoli perdagangan
E. Dipaksa oleh raja pribumi

35. Perhatikan informasi-informasi di bawah ini.
1) Membebaskan kerajaan yang terikat perjanjian dengan VOC dari kewajiban membayar pajak                 untuk menghindari pemberontakan
2) Menyingkirkan pedagang dari negara-negara lain dari aktivitas perdagangan rempah-rempah di             Nusantara
3) Menambah jumlah tanaman sehingga harga dapat meningkat
4) Menentukan luas areal penanaman dan jumlah tanaman rempah-rempah
5) Memberlakukan dua jenis pajak kepada rakyat yaitu contingenten dan verplichte leverantie.
        Kebijakan yang pernah diterapkan oleh VOC selama berkuasa di Nusantara ditunjukkan nomor..
A. 1), 2), 3)
B. 1), 3), 4)
C. 2), 3), 4)
D. 2), 4), 5)
E. 3), 4), 5)

36. Perhatikan informasi berikut.
1) Tanah yang digunakan untuk tanaman wajib tetap dikenai pajak.
2) Rakyat mengerjakan tanaman pada tanah pertanian tidak melebihi 3 bulan.
3) Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan 
4) Mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor 
5) Para petani diharuskan untuk mempersiapkan lading, menanam, menjaga kebun.
        Kebijakan-kebijakan dasar cultuurstelsel ditunjukkan oleh nomor..
A. 1), 2), 3)
B. 1), 2), 4)
C. 2), 3), 4)
D. 2), 4), 5)
E. 3), 4), 5)  

37. Tujuan utama penerapan kebijakan tanam paksa di bawah kepemimpinan Guberbur Jendral                     Johannes Van den Bosch adalah
A. Memenuhi permintaan pasar Eropa akan tanaman ekspor selain cengkeh
B. Membiasakan petani untuk menanam tanaman ekspor
C. Menyelamatkan negara Belanda dari kebangkrutan ekonomi
D. Belum adanya kepastian hokum atas tanah
E. Membiayai perang melawan Perancis

38. Praktik eksploitasi dalam penerapan kebijakan pintu terbuka membuat kaum humanis yang dulu menentang sistem tanam paksa bersuara lebih lantang. Hal tersebut yang menyebabkan munculnya politik etis. Di bawah ini pernyataan yang tidak terkait dengan politik etis adalah…
A. Pelaksanaannya mencerminkan tujuan awalnya 
B. Pelaksanaannya tidak diawasi oleh pemerintah Belanda 
C. Dipelopori oleh kaum humanis Belanda 
D. Bertujuan menyejahterakan rakyat di tanah jajahan 
E. Dalam prakteknya menjadi sarana eksploitasi baru oleh Belanda 

39. Paham liberalisme yang diperkenalkan di Indonesia sejak masa penjajahan Belanda banyak                     memberi dampak. Salah satu dampak positif paham liberalisme adalah…
A. Penguasaan semua aset vital oleh pihak swasta
B. Persaingan yang menguntungkan semua orang
C. Intervensi negara yang minim
D. Kebebasan dan kesetaraan 
E. Perdagangan bebas

40. Perhatikan informasi berikut..
1) Golongan bangsawan berkewajiban membayar pajak.
2) Golongan rakyat biasa diberikan kewajiban untuk berdagang.
3) Golongan Eropa mendapatkan tempat Istimewa di masyarakat.
4) Golongan Timur Asing menguasai perdagangan eceran.
Kondisi yang memperlihatkan praktik deskriminasi ras yang diterapkan kolonial Belanda ditunjukkan nomor..
A. 1)  dan 2)
B. 1) dan 3)
C. 2) dan 3)
D. 2) dan 4)
E. 3) dan 4)


x


1. Kebijakan kolonial Portugis yang memicu perlawanan lokal adalah
a. Monopoli pergadangan dan rempah-rempah
b. Ekpasnsi wilayah demi untuk meraih hak monopoli terbesar
c. Adanya praktik diskriminasi terhadap penduduk pribumi
d. Campur tangan terhadap masalah internal kerajaan
e. Sikap angkuh yang diperlihatkan oleh portugis

2. Sebagai persiapan melawan portugis, Aceh melakukan langkah-langkah antara lain pada tahun 1567 mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli yang berasal dari
a. Mesir
b. Jepara
c. Demak
d. Turki
e. batavia

3. di bawah ii adalah daerah di mana Aceh melakukan serangan terhadap Portugis setelah menapatkan bantuan dari Kontantin
a. Malaka
b. Pidie
c. Pasai
d. Merak
e. Aceh Darusalam

4. Peortugis sempat kewalahan pada tahun 1629 dalam menghadapi Aceh saat melancarkan serangannya ke Malaka, serangan ini dimpimpin oleh
a. Sultan Ali Mughayat syah
b. Sultan Mahmud Syah
c. Sultan Iskadar Muda
d. Sultan Alaudin Riayat Syah
e. Panglima Polim

5. Rakyat Maluku tidak mau terus menderita dibawah keserahahan bangsa belanda, Oleh karena itu, perlu mengadakan perlawanan untuk menentang kebijakan Belanda dibawah Pimpinan....
a. Thomas pathiwali
b. Lucas latumahina
c. Thomas Matulesi
d. Christina Mratha Tiahahu
e. Kapitan Paulus Tahahu

6. Perang Paderi diawali dengan perpecahan di kalangan rakyat Indonesia sendiri, yaitu
a. Munculnya gerakan Wahabi di Sumatra Barat
b. Konflik antara Kaum Paderi dan Kaum Adat
c. Persaingan di antara pendukung gerakan Wahabiah
d. Dukungan pemerintah kolonial terhadap kaum adat
e. Dukungan pemerintah kolonial terhadap gerakan Wahabiah

7. Pertahanan terakhir perjuangan kaum Padri berada di tangan
a. Tuanku Imam Bonjol
b. Cut Nyak Dien
c. Tuanku Nan Cerdik
d. Sulaiman Aljufri
e. Tuanku Lintau

8. Sebab khusus terjadinya perlawanan Pangeran Diponegoro adalah …
a. Belanda memasang patok-patok pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Diponegoro secara sepihak
b. Hak-hak istimewa bangsawan kerajaan dibatasi
c. Belanda membawa pengaruh budaya asing yang negatif bagi kehidupan pribumi
d. Diberlakukannya hak tawan karang
e. Masunya paham Wahabi yang ingin memurnikan ajaran Islam

9. Salah satu faktor perlawanan Sisingamangaraja XII melawan Belanda adalah adanya kekhawatiran mengenai…
a. Pemberlakuan sistem pajak baru
b. Aliansi Riau-Siak dalam menghadapi Kerajaan Batak
c. Penyatuan daerah Tapanuli Utara dan Aceh
d. Rencana pengangkatan Sisingamangaraja XIII sebagai raja
e. Kegiatan zendingProtestan yang akan mengurangi pengaruhnya

10. Tujuan diadakannya Traktat Sumatera pada tahun 1871 antara Inggris dan Belanda adalah…
a. Memberikan kesempatan kepada Inggris untuk melakukan ekspansi militer ke Aceh
b. Membagi Sumatera menjadi daerah kekuasaan Belanda dan Inggris
c. Mencegah dikuasainya Aceh oleh bangsa Eropa lain
d. Membuka Aceh bagi perdagangan Eropa
e. Membatasi pengaruh Belanda di Sumatera

11. Tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang merasakan dampak dari berbagai kebijakan kolonialis Belanda di Indonesia antara lain… ( 3.2.2.)
a. melakukan perlawanan dipimpin oleh para raja/sultan
b. selalu tunduk pada penguasa baik lokal maupun kolonial
c. menyerahkan sepenuhnya masalah kepada penguasa daerah
d. menyusun strategi agar tidak mendapatkan tuduhan oleh Belanda
e. memperserat hubungan antara pemerintah colonial dengan rakyat melalui pajak

12. Terjadinya perlawanan rakyat Ternate dipimpin oleh Sultan Baabullah melawan Portugis menyebabkan Portugis harus meninggalkan Ternate. Latar belakang dari perlawanan tersebut adalah …
a. Rakyat Ternate mendapatkan dukungan dari Spanyol untuk mengusir Portugis.
b. Portugis berusaha mengambil alih aktifitas perdagangan di seluruh wilayah Maluku.
c. Datangnya bantuan senjata dari Batavia ke Ternate untuk mengusir Portugis dari wilayah tersebut.
d. Rakyat Ternate merasa sangat terhina oleh Portugis ketika dilarang berdagang di Maluku dan sekitarnya.
e. Terbunuhnya Sultan Hairun secara licik oleh Portugis saat membicarakan masalah perdagangan di Ternate

13. Perang Paderi di Sumatra barat pada awalnya hanya merupakan tertentangan antara kaum Paderi ( ulama) melawan kaum adat, tetapi kemudian berubah menjadi perlawanan rakyat Sumatra barat melawan Belanda. Hal ini disebabkan oleh …
a. Kaum adat merasa terdesak dan minta bantuan kepada pemerintah Belanda
b. Belanda berusaha untuk menguasai daerah Sumatra barat dengan berbagai cara
c. Kaum Paderi berusaha untuk memenangkan persaingan dengan bantuan Belanda
d. Kaum Paderi sengaja menggunakan kaum adat sebagai umpan untuk melawan Belanda
e. Kaum adat dan kaum Paderi sejak awal tidak mengendaki keberadaan Belanda di daerahnya

14. Belajar dari terjadinya Perang Paderi di Sumatra barat, hal yang akan saya lakukan di sekolah apabila ada masalah yang harus diselesaikan, adalah …
a. berusaha mencari penyelesaian dengan dibantu oleh pihak lain
b. masalah yang terjadi diserahkan dan diselesaikan kepada pihak berwajib
c. mencari penyelesaian berdasarkan argumentasi dari masing-masing pihak
d. seiring dengan waktu, masalah akan terselesaikan tanpa bantuan orang lain
e. menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan tanpa melibatkan pihak lain

15. Kerajaan-kerajaan Nusantara belum mampu mengalahkan pengaruh asing diwilayahnya, bahkan banyak perlawanan rakyat yang kalah melawan bangsa asing tersebut. Penyeba utamanya adalah …
a. Perlawanan masih bersifat lokal dan sporadis
b. Tentara tidak mempunyai kemampuan untuk berperang
c. Rakyat berperang dengan tanpa senjata
d. Raja / sultan tidak langsung memimpin di medan perang
e. Banyak tentara yang terasut oleh kelicikan tentara asing

 7. Perang Aceh

        Aceh memiliki kedudukan yang strategis. Aceh menjadi pusat perdagangan. Daerahnya luas dan memiliki hasil penting seperti lada, hasil tambang, serta hasil hutan. Karena itu dalam rangka mewujudkan Pax Neerlandica, Belanda sangat berambisi untuk menguasai Aceh. Kita tahu sejak masa VOC, orangorang Belanda itu ingin menguasai perdagangan di Aceh, begitu juga zaman pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi di sisi lain orang-orang Aceh dan para sultan yang pernah berkuasa tetap ingin mempertahankan kedaulatan Aceh. Semangat dan tindakan sultan beserta Rakyatnya yang demikian itu memang secararesmi didukung dan dibenarkan oleh adanya Traktat London tanggal 17 Maret 1824. Traktat London itu adalah hasil kesepakatan antara Inggris dan Belanda yang isinya antara lain bahwa Belanda setelah mendapatkan kembali tanah jajahannya di Kepulauan Nusantara, tidak dibenarkan mengganggu kedaulatan Aceh. Dengan isi Traktat London itu secara resmi menjadi kendala bagi Belanda untukmenguasai Aceh. Tetapi secara geografis-politis Belanda merasa diuntungkan karena kekuatan Inggris tidak lagi sebagai penghalang dan Belanda mulaidapat mendekati wilayah Aceh. Apalagi pada tahun 1825 Inggris sudah menyerahkan Sibolga dan Natal kepada Belanda. Dengan demikian Belanda sudah berhadapan langsung wilayah Kesultanan Aceh. Belanda tinggal menunggu momen yang tepat untuk dapat melakukan intervensi di Aceh. Belanda mulai kusak- kusuk untuk menimbulkan kekacauan di Aceh. Politik adu domba juga mulai diterapkan. Belanda juga bergerak di wilayah perairan Aceh dan Selat Malaka. Belanda sering menemukan para bajak laut yang mengganggu kapal-kapal asing yang sedang berlayar dan berdagang di perairan Aceh dan Selat Malaka. Dengan alasan menjaga keamanan kapal kapal yang sering diganggu oleh para pembajak maka Belanda menduduki beberapa daerah seperti Baros dan Singkel. Gerakan menuju aneksasi terus diintensifkan. Pada tanggal 1 Februari 1858, Belanda menyodorkan perjanjian dengan Sultan Siak, Sultan Ismail. Perjanjian inilah yang dikenal dengan Traktat Siak. Isinya antara lain Siak mengakui kedaulatan Hindia Belanda di Sumatra Timur. Ini artinya daerahdaerah yang berada di bawah pengaruh Siak seperti: Deli, Asahan, Kampar, dan Indragiri berada di bawah dominasi Hindia Belanda. Padahal daerahdaerah itu sebenarnya berada di bawah lindungan Kesultanan Aceh. Tindakan Belanda dan Siak ini tidak diprotes keras oleh Kesultanan Aceh.

        Perkembangan politik yang semakin menohok Kesultanan Aceh adalah ditandatanganinya Traktat Sumatera antara Belanda dengan Inggris pada tanggal 2 November 1871. Isi Traktat Sumatera itu antara lain Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas daerah kekuasaannya di seluruh Sumatera. Hal ini jelas merupakan ancaman bagi Kesultanan Aceh. Dalam posisi yang terus terancam ini Aceh berusaha mencari sekutu dengan negara-negara lain seperti dengan Turki, Italia bahkan juga melakukan kontak hubungan dengan Amerika Serikat. Aceh kemudian tahun 1873 mengirim utusan yakni Habib Abdurrahman pergi ke Turki untuk meminta bantuan senjata. Langkah-langkah Aceh itu diketahui oleh Belanda. Oleh karena itu, Belanda mengancam dan mengultimatum agar Kesultanan Aceh tunduk di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Aceh tidak akan menghiraukan ultimatum itu. Karena Aceh dinilai membangkang maka pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda melalui Komisaris Nieuwenhuijzen mengumumkan perang terhadap Aceh. Pecahlah pertempuran antara Aceh melawan Belanda. Para pejuang Aceh di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah II mengobarkan semangat jihad angkat senjata untuk melawan kezaliman Belanda. Beberapa persiapan di Aceh sebenarnya sudah dilakukan. Misalnya membangun pos-pos pertahanan. Sepanjang pantai Aceh Besar telah dibangun kuta, yakni semacam benteng untuk memperkuat pertahanan wilayah. Kuta ini dibangun di sepanjang Pantai Aceh Besar seperti Kuta Meugat, Kuta Pohama, Kuta Mosapi dan juga lingkungan istana Kutaraja dan Masjid Raya Baiturrahman. Jumlah pasukan juga ditingkatkan dan ditempatkan di beberapa tempat strategis. Sejumlah 3000 pasukan disiagakan di pantai dan 4000 pasukan disiagakan di lingkungan istana. Senjata dari luar juga sebagian juga telah berhasil dimasukkan ke Aceh seperti 5000 peti mesiu dan sekitar 1394 peti senapan.

        Memperhatikan hasil laporan spionase Belanda yang mengatakan bahwa Aceh dalam keadaan lemah secara politik dan ekonomi, membuat para pemimpin Belanda termasuk Kohler optimis bahwa Aceh segera dapat ditundukkan. Oleh karena itu, serangan-serangan tentara Belanda terus diintensifkan. Tetapi kenyataannya tidak mudah menundukkan para pejuang Aceh. Dengan kekuatan yang ada para pejuang Aceh mampu memberikan perlawanan sengit. Pertempuran terjadi kawasan pantai, kemudian juga di kota, bahkan pada tanggal 14 April 1873 terjadi pertempuran sengit antara pasukan Aceh dibawah pimpinan Teuku Imeum Lueng Bata melawan tentara Belanda di bawah pimpinan Kohler untuk memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman. Dalam pertempuran memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman ini pasukan Aceh berhasil membunuh Kohler di bawah pohon dekat masjid tersebut. Pohon ini kemudian dinamakan Kohler Boom. Banyak jatuh korban dari pihak Belanda. Begitu juga tidak sedikit korban dari pihak pejuang Aceh yang mati syahid. Terbunuhnya Kohler ini maka pasukan Belanda ditarik mundur ke pantai. Dengan demikian gagallah serangan tentara Belanda yang pertama. Ini membuktikan bahwa tidak mudah untuk segera menundukkan Aceh. Karena kekuatan para pejuang Aceh tidak semata-mata terletak pada kekuatan pasukannya, tetapi juga terkait hakikat kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai agama dan sosial budaya yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Doktrin para pejuang Aceh dalam melawan Belanda hanya ada dua pilihan “syahid atau menang”. Dalam hal ini nilai-nilai agama senantiasa menjadi potensi yang sangat menentukan dalam menggerakkan perlawanan terhadap penjajahan asing. Oleh karena itu, Perang Aceh berlangsung begitu lama. Setelah melipatgandakan kekuatannya, pada tanggal 9 Desember 1873 Belanda melakukan agresi atau serangan yang kedua. Serangan ini dipimpin oleh J. van Swieten. Pertempuran sengit terjadi istana dan juga terjadi di Masjid Raya Baiturrahman. Para pejuang Aceh harus mempertahankan masjid dari serangan Belanda yang bertubi-tubi. Masjid terus dihujani peluru dan kemudian pada tanggal 6 Januari 1874 masjid itu dibakar. Para pejuang dan ulama kemudian meninggalkan masjid.

        Tentara Belanda kemudian menuju istana. Pada tanggal 15 Januari 1874 Belanda dapat menduduki istana setelah istana dikosongkan, karena Sultan Mahmud Syah II bersamapara pejuang yang lain meninggalkan istana menuju ke Leueung Bata danditeruskan ke Pagar Aye (sekitar 7 km dari pusat kota Banda Aceh). Tetapipada tanggal 28 Januari 1874 sultan meninggal karena wabah kolera.Jatuhnya Masjid Raya Baiturrahman dan istana sultan, Belanda menyatakanbahwa Aceh Besar telah menjadi daerah kekuasaan Belanda. Para ulebalang,ulama dan rakyat tidak ambil pusing dengan pernyataan Belanda. Mereka kemudian mengangkat putra mahkota Muhammad Daud Syah sebagai sultan Aceh. Tetapi karena masih di bawah umur maka diangkatlah Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai wali atau pemangku sultan sampai tahun 1884. Pusat pemerintahan di Indrapuri (sekitar 25 km arah tenggara dari pusat kota). Semangat untuk melanjutkan perang terus menggelora di berbagai tempat. Pertempuran dengan Belanda semakin meluas ke daerah hulu. Sementara itu tugas van Swieten di Aceh dipandang cukup. Ia digantikan oleh Jenderal Pel. Sebelum Swieten meninggalkan Aceh, ia mengatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda akan segera membangun kembali masjid raya yang telah dibakarnya. Tentu hal ini dalam rangka menarik simpati rakyat Aceh. Para pejuang Aceh tidak mengendorkan semangatnya. Di bawah pimpinan ulebalang, ulama dan ketua adat, rakyat Aceh terus mengobarkan perang melawan Belanda. Semangat juang semakin meningkat seiring pulangnya Habib Abdurrahman dari Turki pada tahun 1877. Tokoh ini kemudian menggalang kekuatan bersama Tengku Cik Di Tiro. Pasukannya terus melakukan serangan-serangan ke pos-pos Belanda. Kemudian Belanda menambah kekuatannya sehingga dapat mengalahkan serangan – serangan yang dilakukan pasukan Habib Abdurrahman dan Cik Di Tiro. Di bawah pimpinan Van der Heijden, Belanda berhasil mendesak pasukan Habib Abdurrahman, bahkan Habib Abdurrahman akhirnya menyerah kepada Belanda. Sementara Cik Di Tiro mendur ke arah Sigli untuk melanjutkan perlawanan. Belanda berhasil menguasai beberapa daerah seperti Seunaloh, Ansen Batee. Panglima Polim, Tengku Cik Di Tiro memproklamirkan “Ikrar Prang Sabi” (Perang Sabil). perang suci untuk membela agama, perang untuk mempertahankan tanah air, perang jihad untuk melawan kezaliman di muka bumi. Setelah penobatan itu, mengingat keamanan istana di Indrapuri dipindahkan ke Keumala di daerah Pidie (sekitar 25 km sebelah selatan kota Pidie). Dari Istana Keumala inilah semangat Perang Sabil digelorakan. Dengan digelorakan Perang Sabil, perlawanan rakyat Aceh semakin meluas. Apalagi dengan seruan Sultan Muhammad Daud Syah yang menyerukan gerakan amal untuk membiayai perang, telah menambah semangat para pejuang Aceh. Cik Di Tiro mengobarkan perlawanan di Sigli dan Pidie.

        Di Aceh bagian barat tampil Teuku Umar beserta isterinya Cut Nyak Dien. Pertempuran sengit terjadi di Meulaboh. Beberapa pos pertahanan Belanda berhasil direbut oleh pasukan Teuku Umar. Pasukan Aceh dengan semangat jihadnya telah enambah kekuatan untuk melawan Belanda. Belanda mulai kewalahan di berbagai medan pertempuran. Belanda mulai menerapkan strategi baru yang dikenal dengan “Konsentrasi Stelsel atau Stelsel Konsentrasi”. Strategi Konsentrasi Stelsel itu ternyata juga belum efektif untuk dapat segera menghentikan perang di Aceh. Bahkan dengan strategi itu telah menyebarkan perlawanan rakyat Aceh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Perang gerilya juga mulai dilancarkan oleh para pejuang Aceh. Gerakan pasukan Teuku Umar juga terus mengalami kemajuan. Pertengahan tahun 1886 Teuku Umar berhasil menyerang dan menyita kapal Belanda Hok Canton yang sedang berlabuh di Pantai Rigaih. Kapten Hansen (seorang berkebangsaan Denmark) nakhoda kapal yang diberi tugas Belanda untuk menangkap Teuku Umar justru tewas dibunuh oleh Teuku Umar. Ditengah-tengah perjuangan itu pada tahun 1891 Tengku Cik Di Tiro meninggal. Perjuangannya melawan Belanda dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Tengku Ma Amin Di Tiro.

        Kemudian terpetik berita bahwa pada tahun 1893 Teuku Umar menyerah kepada Belanda. Teuku Umar kemudian dijadikan panglima tentara Belanda dan diberi gelar Teuku Johan Pahlawan. Ia diizinkan untuk membentuk kesatuan tentara beranggotakan 250 orang. Peristiwa ini tentu sangat berpengaruh pada semangat juang rakyat Aceh. Nampaknya Teuku Umar juga tidak serius untuk melawan bangsanya sendiri. Setelah pasukannya sudah mendapatkan banyak senjata dan dipercaya membawa dana 800.000 gulden, pada 29 Maret 1896 Teuku Umar dengan pasukannya berbalik dan kembali melawan Belanda. Peristiwa inilah yang dikenal dengan Het verraad van Teukoe Oemar (Pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar berhasil menyerang pos-pos Belanda yang ditemui. Peristiwa itu membuat Belanda semakin marah dan geram. Sementara untuk menghadapi semangat Perang Sabil Belanda juga semakin kesulitan. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain untuk melaksanakan usulan Snouck Horgronye untuk melawan Aceh dengan kekerasan. Ia mempelajari bahasa, adad istiadat, kepercayaan dan waktu orang-orang Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Acehers). Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh. Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz adalah, supaya golongan Keumala yaitu Sultan yg berkedudukan di Keumala dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu. Tetap menyerang terus & menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi & membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yg menjadi Gubernur militer & sipil di Aceh. Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehatnya. Agresi tentara Belanda terjadi pada tanggal 5 April 1873. 

        Tentara Belanda di bawah pimpinan Jenderal Mayor J.H.R. Kohler terus melakukan serangan terhadap pasukan Aceh. Pasukan Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus mendapat gempuran dari pasukan Belanda. Belanda segera melaksanakan usulan-usulan Snouck Horgronye tersebut. Belanda harus menggempur Aceh dengan kekerasan dan senjata. Untuk memasuki fase ini dan memimpin perang melawan rakyat Aceh, diangkatlah gubernur militer yang baru yakni van Heutsz (1898-1904) menggantikan van Vliet. Genderang perang dengan kekerasan di mulai tahun 1899. Perang ini berlangsung 10 tahun. Oleh karena itu, pada periode tahun 1899 – 1909 di Aceh disebut dengan masa sepuluh tahun berdarah (tien bloedige jaren). Semua pasukan disiagakan dengan dibekali seluruh persenjataan. Van Heutsz segera melakukan serangan terhadap pos pertahanan para pemimpin perlawanan di berbagai daerah. Dalam hal ini Belanda juga mengerahkan pasukan anti gerilya yang disebut Korps Marchausse (Marsose) yakni pasukan yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang berada di bawah pimpinan opsiropsir Belanda. Mereka pandai berbahasa Aceh. Dengan demikian mereka dapat bergerak sebagai informan. Dengan kekuatan penuh dan sasaran yang tepat karena adanya informan-informan bayaran, serangan Belanda Berhasil mencerai-beraikan para pemimpin perlawanan. Teuku Umar bergerak menyingkir ke Aceh bagian barat dan Panglima Polem dapat digiring dan bergerak di Aceh bagian timur. Di Aceh bagian barat Teuku Umar mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran ke arah Meulaboh. Tetap tampaknya persiapan Teuku Umar ini tercium oleh Belanda. Maka Belanda segera menyerang benteng pertahanan Teuku Umar. Terjadilah pertempuran sengit pada Februari 1899. Dalam pertempuran ini Teuku Umar gugur sebagai suhada. Perlawanan dilanjutkan oleh Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien dengan pasukannya memasuki hutan dan mengembangkan perang gerilya. 

        Perlawanan rakyat Aceh belum berakhir. Para pejuang Aceh di bawah komando sultan dan Panglima Polem terus berkobar. Setelah istana kerajaan di Keumala diduduki Belanda, sultan melakukan perlawanan dengan berpindah-pindah bahkan juga melakukan perang gerilya. Sultan menuju Kuta Sawang kemudian pindah ke Kuta Batee Iliek. Tetapi kuta-kuta ini berhasil diserbu Belanda. Sultan kemudian menyingkir ke Tanah Gayo. Pada tahun berikutnya Belanda menangkap istri sultan, Pocut Murong. Karena tekanan Belanda yang terus menerus, pada Januari 1903 Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah. Demikian siasat licik dari Belanda. Cara licik ini kemudian juga digunakan untuk mematahkan perlawanan Panglima Polem dan Tuanku Raha Keumala. Istri, ibu dan anak-anak Panglima Polem ditangkap oleh Belanda. Dengan tekanan yang bertubi-tubi akhirnya Panglima Polem juga menyerah pada 6 Serptember 1903. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kerajaan Aceh yang sudah berdiri sejak 1514 harus berakhir.

 6. Perang Sisingamangaraja XII

    Perang Tapanuli terjadi karena kebijakan Belanda di Nusantara, dan berlaku juga di Tapanuli, membuat rakyat mengalami penderitaan yang hebat. Banyak para petani yang kehilangan tanah dan pekerjaannya karena diberlakukannya politik liberal yang membebaskan kepada para pengusaha Eropa untuk dapat menyewa tanah penduduk pribumi. Dan dalam pelaksanaanya banyak penduduk pribumi yang dipaksakan untuk menyewakan tanahnya dengan harga murah. Untuk itu Sisingamangaraja mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Berikut beberapa alasan Sisingamangaraja XII mengadakan perlawanan terhadap Belanda: a. Pengaruh Sisingamangaraja semakin kecil. c. Belanda memperluas kekuasaannya dalam rangka Pax Netherlandica. Sedangkan penyebab khusus perlawanan adalah kemarahan sisingamangaraja atas penempatan pasukan Belanda di Tarutung. Sampai abad ke-18, hampir seluruh Sumatera sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka dan damai di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda. Rakyat bertani dan beternak, berburu dan sedikit-sedikit berdagang. Kalau Raja Sisingamangaraja XII mengunjungi suatu negeri semua yang terbeang atau ditawan, harus dilepaskan. Sisingamangaraja XII memang terkenal anti perbudakan, anti penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan. 

        Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Kemudian pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII di Bangkara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba. Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda sampai di Pearaja, tempat kediaman penginjil Ingwer Ludwig Nommensen. Kemudian beserta penginjil Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemah pasukan Belanda terus menuju ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Namun kehadiran tentara kolonial ini telah memprovokasi Sisingamangaraja XII, yang kemudian mengumumkan pulas (perang) pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan. Pada tanggal 14 Maret 1878 datang Residen Boyle bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga. Pada tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat pemerintahan Sisingamangaraja diserang pasukan kolonial dan pada 3 Mei 1878 seluruh Bangkara dapat ditaklukkan namun Singamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. Sementara para raja yang tertinggal di Bangkara dipaksa Belanda untuk bersumpah setia dan kawasan tersebut dinyatakan berada dalam kedaulatan pemerintah Hindia-Belanda. Walaupun Bangkara telah ditaklukkan, Singamangaraja XII terus melakukan perlawanan secara gerilya, namun sampai akhir Desember 1878 beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur juga dapat ditaklukkan oleh pasukan kolonial Belanda. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala. Karena Belanda selalu unggul dalam persenjataan, maka taktik perang perjuangan Batak dilakukan secara tiba-tiba, hal ini mirip dengan taktik perang Gerilya. Pada tahun 1888, pejuang-pejuang Batak melakukan penyerangan ke Kota Tua. Mereka dibantu orang-orang Aceh yang datang dari Trumon. Perlawanan ini dapat dihentikan oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh J. A. Visser, namun Belanda juga menghadapi kesulitan melawan perjuangan di Aceh. Sehingga Belanda terpaksa mengurangi kegiatan untuk melawan Sisingamangaraja XII karena untuk menghindari berkurangnya pasukan Belanda yang tewas dalam peperangan.

        Pada tanggal 8 Agustus 1889, pasukan Sisingamangaraja XII kembali menyerang Belanda. Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus mundur dari Lobu Talu. Namun Belanda mendatangkan bala bantuan dari Padang, sehingga Lobu Talu dapat direbut kembali. Pada tanggal 4 September 1889, Huta Paong diduduki oleh Belanda. Pasukan Batak terpaksa ditarik mundur ke Passinguran. Pasukan Belanda terus mengejar pasukan Batak sehingga ketika tiba di Tamba, terjadi pertarungan sengit. Pasukan Belanda ditembaki oleh pasukan Batak, dan Belanda membalasnya terus menerus dengan peluru dan altileri, sehingga pasukan Batak mundur ke daerah Horion. Sisingamangaraja XII dianggap selalu mengobarkan perlawanan di seluruh Sumatra Utara. Kemudian untuk menanggulanginya, Belanda berjanji akan menobatkan Sisingamangaraja XII menjadi Sultan Batak. Sisingamangaraja XII tegas menolak iming-iming tersebut, baginya lebih baik mati daripada menghianati bangsa sendiri. Belanda semakin geram, sehingga mendatangkan regu pencari jejak dari Afrika, untuk mencari persembunyian Sisingamangaraja XII. Barisan pelacak ini terdiri dari orang-orang Senegal. Oleh pasukan Sisingamangaraja XII barisan musuh ini dijuluki Si Gurbak Ulu Na Birong. Tetapi pasukan Sisingamangaraja XII pun terus bertarung. Panglima Sarbut Tampubolon menyerang tangsi Belanda di Butar, sedang Belanda menyerbu Lintong dan berhadapan dengan Raja Ompu Babiat Situmorang. Tetapi Sisingamangaraja XII menyerang juga ke Lintong Nihuta, Hutaraja, Simangarongsang, Huta Paung, Parsingguran dan Pollung. Panglima Sisingamangaraja XII yang terkenal Amandopang Manullang tertangkap. Dan tokoh Parmalim yang menjadi Penasehat Khusus Raja Sisingamangaraja XII, Guru Somaling Pardede juga ditawan Belanda. Ini terjadi pada tahun Tahun 1907, pasukan Belanda yang dinamakan Kolonel Macan atau Brigade Setan mengepung Sisingamangaraja XII. Tetapi Sisingamangaraja XII tidak bersedia menyerah. Ia bertempur sampai titik darah penghabisan. Boru Sagala, Isteri Sisingamangaraja XII, ditangkap pasukan Belanda. Ikut tertangkap putra-putri Sisingamangaraja XII yang masih kecil. Raja Buntal dan Pangkilim. Menyusul Boru Situmorang Ibunda Sisingamangaraja XII juga ditangkap, menyusul Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII dan lain-lain. Tahun 1907, di pinggir kali Aek Sibulbulon, di suatu desa yang namanya Si Onom Hudon, di perbatasan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi yang sekarang, gugurlah Sisingamangaraja XII oleh peluru Marsuse Belanda pimpinan Kapten Christoffel. Sisingamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. Pengikut-pengikutnya berpencar dan berusaha terus mengadakan perlawanan, sedangkan keluarga Sisingamangaraja XII yang masih hidup ditawan, dihina dan dinista, mereka pun ikut menjadi korban perjuangan. Gugurnya Sisingamangaraja XII merupakan pertanda jatunya tanah Batak ke tangan Belanda. Pada saat Sisingamangaraja memerintah Kerajaan Bakara, Tapanuli, Sumatera Utara, Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli. Sisingamangaraja beserta rakyat Bakara mengadakan perlawanan. Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli. Namun, pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat. Pada tahun 1904 Belanda kembali menyerang tanah Gayo. Pada saat itu Belanda juga menyerang daerah Danau Toba. Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu pertahanan pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak. Sisingamangaraja gugur dalam penyerangan itu. Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke Balige.

 5. Perang Bali

        Perang Bali dilakukan untuk mengusir Belanda dari daerahnya dikenal dengan Perang Puputan. Perang puputan ditandai dengan pengorbanan yang luar biasa dari seluruh rakyat yang cinta daerahnya, baik pengorbanan nyawa maupun materi. Perang Puputan dilakukan olah rakyat Bali demi mempertahankan daerah mereka dari pendudukan pemerintah kolonial Belanda. Rakyat Bali tidak ingin Kerajaan Klungkung yang telah berdiri sejak abad ke-9 dan telah mengadakan perjanjian dengan Belanda tahun 1841 di bawah pemerintahan Raja Dewa Agung Putra diduduki oleh Belanda. Sikap pantang menyerah rakyat Bali dijadikan alasan oleh pemerintah Belanda untuk menyerang Bali.Tokoh perang Bali adalah raja kerajaan buleleng I Gusti Made Karangasem dan patihnya I Gusti Ketut Jelantik sebagai pimpinan rakyat Buleleng. Pada abad ke-19, di Bali terdapat banyak kerajaan, yang masing-masing mempunyai kekuasaan tersendiri. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Buleleng, Karangasem, Klungkung, Gianyar, Bandung, Tabanan, Mengwi, Bangli, dan Jembrana. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut yang gencar mengadakan perlawanan terhadap Belanda adalah Buleleng dan Bandung. Raja-raja di Bali terikat dengan perjanjian yang disebut Hak Tawan Karang, yaitu hak suatu negara untuk mengakui dan memiliki kapal-kapal yang terdampar di wilayahnya. Hak Tawan Karang inilah yang memicu peperangan dengan Belanda. Pada 1844, perahu dagang milik Belanda terdampar di Prancak, wilayah Kerajaan Buleleng dan terkena Hukum Tawan Karang. Hukum tersebut memberi hak kepada penguasa kerajaan untuk menguasai kapal yang terdampar beserta isinya. Dengan kejadian itu, Belanda memiliki alasan kuat untuk melakukan serangan ke Kerajaan Buleleng pada Namun, rakyat Buleleng dapat menangkis serangan tersebut. Akan tetapi, pada serangan yang kedua pada 1849, pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Mayor A.V. Michies dan Van Swieeten berhasil merebut benteng pertahanan terakhir Kerajaan Buleleng di Jagaraga. Dengan serangan besar-besaran, rakyat Bali membalasnya dengan perang habishabisan guna mempertahankan harga diri sebagai orang Bali. Pertempuran untuk mempertahankan Buleleng itu dikenal dengan Puputan Jagaraga. Puputan lainnya, yaitu Puputan Badung (1906), Puputan Kusamba (1908), dan Puputan Klungkung (1908).

        Pada sekitar abad 18, para penguasa Bali menerapkan hak tawan karang, yaitu hak yang menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan Bali berhak merampas dan menyita barangbarang dan kapal-kapal yang terdampar dan kandas di wilayah perairan Pulau Bali. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Rakyat Bali 

A. Pemerintah kolonial Belanda ingin menguasai Bali. Yaitu berusaha untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Perjanjian antara pemerintah kolonial Belanda dengan raja-raja Klungkung, Bandung, dan Buleleng dinyatakan bahwa raja-raja Bali mengakui bahwa kerajaannya berada di bawah kekuasaan negara Belanda. Raja memberi izin pengibaran bendera Belanda didaerahnya. 

B. Pemerintah kolonial Belanda ingin menghapuskan hak Tawan Karang yang sudah menjadi tradisi rakyat Bali. 

            Hak Tawan Karang adalah hak raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di pantai wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1844, di pantai Prancak dan pantai Sangsit (pantai di Buleleng bagian timur) terjadi perampasan kapal-kapal Belanda yang terdampar di pantai tersebut. Timbul percekcokan antara Buleleng dengan Belanda. Belanda menuntut agar Kerajaan Buleleng melaksanakan perjanjian 1843, yakni melepaskan hak Tawan Karang. Tuntutan Belanda tidak diindahkan oleh Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem. Belanda menggunakan dalih kejadian ini dan menyerang Kerajaan Buleleng. Pantai Buleleng diblokade dan istana raja ditembaki dengan meriam dari pantai. Belanda mendaratkan pasukannya di pantai Buleleng. Perlawanan sengit dari pihak Kerajaan. Buleleng dapat menghambat majunya laskar Belanda. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Akhirnya Belanda berhasil menduduki satupersatu daerah-daerah sekitar istana raja (Banjar Bali, Banjar Jawa, Banjar Penataran, Banjar Delodpeken, Istana raja telah terkurung rapat). I Gusti Made Karangasem menghadapi situasi ini kemudian mengambil siasat pura-pura menyerah dan tunduk kepada Belanda. Raja Buleleng (Bali) beserta penulisnya. Dalam rangka perlawanan terhadap Belanda, raja-raja Bali melancarkan hukum adat hak tawan karang. Dan dalam perang melancarkan semangat puputan.

       I Gusti Ketut Jelantik patih kerajaan Buleleng melanjutkan perlawanan. Pusat perlawanan ditempatkannya di wilayah Buleleng Timur, yakni di sebuah desa yang bernama desa Jagaraga. Secara geografis desa ini berada pada tempat ketinggian, di lereng sebuah perbukitan dengan jurang di kanan kirinya. Desa Jagaraga sangat strategis untuk pertahanan dengan benteng berbentuk supit urang. Benteng dikelilingi parit dengan ranjau yang dibuat dari bambu untuk menghambat gerakan musuh. Benteng Jagaraga diserang oleh Belanda, namun gagal karena Belanda belum mengetahui medan yang sebenarnya dan siasat pertahanan supit urang laskar Jagaraga. I Gusti Ketut Jelantik bersama seluruh laskarnya setelah memperoleh kemenangan, bertekad untuk mempertahankan benteng Jagaraga sampai titik darah penghabisan demi kehormatan kerajaan Buleleng dan rakyat Bali. Pada 1849, Belanda kembali mengirim ekspedisi militer di bawah pimpinan Mayor Jenderal Michies. Mereka menyerang Benteng Jagaraga dan merebutnya. Belanda juga menyerang Karang Asem. Pada 1906, Belanda menyerang Kerajaan Badung. Raja dan rakyatnya melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Perang yang dilakukan sampai titik darah peng habisan dikenal dengan puputan. 

            Untuk memadamkan perlawanan rakyat Bali yang berpusat di Jagaraga, Belanda mendatangkan pasukan secara besar-besaran, maka setelah mengatur persiapan, mereka langsung menyerang Benteng Jagaraga. Mereka menyerang dari dua arah, yaitu arah depan dan dari arah belakang Benteng Jagaraga. Pertempuran sengit tak dapat dielakkan lagi, terutama pada posisi di mana I Gusti Ketut Jelantik berada. Benteng Jagaraga dihujani tembakan meriam dengan gencar. Korban telah berjatuhan di pihak Buleleng. Kendatipun demikian, tidak ada seorang pun laskar Jagaraga yang mundur atau melarikan diri. Mereka semuanya gugur dan pada tanggal 19 April 1849 Benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda. Mulai saat itulah Belanda menguasai Bali Utara. Penyebab perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan memaksa Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan karang adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang serta kapal-kapal yang terdampar di Pulau Bali. Raja-raja Bali menolak keinginan Belanda. Akhirnya, Belanda menyerang Bali. Belanda melakukan tiga kali penyerangan, yaitu pada tahun 1846, 1848, dan Rakyat Bali mempertahankan tanah air mereka. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan, rakyat Bali mengadakan perang puputan, yaitu berperang sampai titik darah terakhir. Di antaranya Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba (1908), dan Perang Puputan Klungkung (1908). Salah saut pemimpin perlawanan rakyat Bali yang terkenal adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut Jelantik.

4. Perang Banjar

        Perang Banjar diawali dari perebutan takhta yang terjadi di dalam keluarga Kesultanan Banjar. Sultan Adam yang meninggal pada 1857 mewariskan takhta kepada Pangeran Hidayat. Namun, Belanda di bawah Gubernur Jenderal Rochussen ikut campur menentukan pewaris takhta tersebut. Sultan Adam cenderung untuk memilih Pangeran Hidayatullah. Alasannya memiliki perangai yang baik, taat beragama, luas pengetahuan, dan disukai rakyat. Sebaliknya Pangeran Tamjid kelakuannya kurang terpuji, kurang taat beragama dan bergaya hidup kebarat-baratan meniru orang Belanda. Pangeran Tamjid inilah yang dekat dengan Belanda dan dijagokan oleh Belanda. Belanda menekan Sultan Adam dan mengancam supaya mengangkat Pangeran Tamjid. Belanda menginginkan Pangeran Tamjid Ullah menjadi sultan karena Belanda mengharapkan izinnya untuk menguasai daerah pertambangan batu bara yang berada di wilayah kekuasaan Pangeran Tamjid Ullah. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Tamjid Ullah sebagai sultan dan Pangeran Hidayat diangkat sebagai mangkubumi. Oleh karena itu, timbullah keresahan dan pemberontakan di kalangan rakyat daerah pedalaman karena rakyat menghendaki Pangeran Hidayat yang menjadi sultan. Pada akhirnya, kekuasaan di Kasultanan Banjar diambil alih pemerintah Belanda, setelah menurunkan Pangeran Tamjid Ullah dari takhta kesultanan. Cucu Sultan Adam Al Wasikbillah ada 2 orang, yaitu: a. Pangeran Hidayatullah, putra Sultan Muda Abdurrakhman dengan permaisuri putri keraton Ratu Siti, Putri dari Pangeran Mangkubumi Nata. b. Pangeran Tamjid adalah putra Abdurrakhman dengan istri wanita biasa keturunan China yang bernama Nyai Aminah. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan Rakyat Banjar a. Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Kerajaan Banjar.

        Dalam monopoli perdagangan lada, rotan, damar, dan hasil-hasil tambang seperti emas dan intan, Belanda bersaing dengan saudagar-saudagar Banjar dan para bangsawan Banjar. Dari persaingan menjadi permusuhan karena Belanda berusaha menguasai beberapa wilayah Kerajaan Banjar. b. Pemerintah kolonial Belanda ikut mencampuri urusan dalam Kraton terutama dalam pergantian sultan-sultan kerajaan Banjar. Misalnya Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi sultan pada tahun Hak Pangeran Hidayat menjadi sultan disisihkan. Padahal yang berhak menjadi sultan yang sebenarnya adalah Pangeran Hidayat sendiri. c. Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan bahwa Kasultanan Banjarmasin akan dihapuskan. Jalannya Perlawanan Rakyat Banjar dan Pangeran Antasari Kendatipun Pangeran Hidayat tidak menjadi Sultan Kerajaan Banjar, tetapi ia telah mempunyai kedudukan sebagai Mangkubumi. Pengaruhnya cukup besar di kalangan rakyatnya. Campur tangan Belanda di kraton makin besar dan kedudukan Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi makin terdesak. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengadakan perlawanan bersama sepupunya Pangeran Antasari. Di mana-mana timbul suara ketidakpuasan masyarakat terhadap Sultan Tamjidillah II (gelar Sultan Tamjid setelah naik tahta) dan kebencian rakyat terhadap Belanda. Kebencian rakyat lama-lama berubah menjadi bentuk perlawanan yang terjadi di mana-mana. Perlawanan tersebut dipimpin oleh seorang figur yang didambakan rakyat, yaitu Pangeran Antasari.

        Pangeran Antasari, seorang bangsawan yang sudah lama hidup di kalangan rakyat yang berusaha mempersatukan kaum pemberontak. Pada April 1859, pasukan Pangeran Antasari menyerang pos Belanda di Martapura dan Pengaron. Pada Maret 1860, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1278 Hijriah, para alim ulama dan para pemimpin rakyat menobatkan Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amirudin Kalifatul Mukminin, atau pemimpin tertinggi agama. Pangeran Antasari seorang pemimpin perlawanan yang amat anti Belanda. Ia bersama pengikutnya, Kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin dan Haji Langlang, berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 3000 orang. Ia bersama pasukannya menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron pada tanggal 28 April Pertempuran heat terjadi di salah satu pusat kekuatan Pangeran Antasari, yaitu Benteng Gunung Lawak. Belanda berhasil menduduki Benteng Gunung Lawak (27 September 1859). Niat Belanda yang sebenarnya adalah menghapuskan Kerajaan Banjar. Hal ini baru terlaksana setelah Kolonel Andresen dapat menurunkan Sultan Tamjidillah, yang dianggapnya sebagai penyebab kericuhan, sedangkan Pangeran Hidayat sebagai Mangkubumi telah meninggalkan kraton. Belanda menghapuskan kerajaan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860 dan dimasukkan ke dalam kekuasaan Belanda. Pangeran Hidayat terlibat dalam pertempuran yang hebat melawan Belanda pada tanggal 16 Juni 1860 di Anbawang.

        Adanya ketidakseimbangan dalam persenjataan dan pasukan yang kurang terlatih, menyebabkan Pangeran Hidayat harus mengundurkan diri. Belanda menggunakan siasat memberikan kedudukan dan jaminan hidup kepada setiap orang yang bersedia menghentikan perlawanan dengan menyerahkan diri kepada Belanda. Ternyata siasat ini berhasil, yaitu dengan menyerahkan Kyai Demang Leman pada tanggal 2 Oktober Akhir Perlawanan Rakyat Banjar Penyerahan Kyai Demang Leman mempengaruhi kekuatan pasukan Pangeran Antasari. Beberapa bulan kemudian Pangeran Hidayat dapat ditangkap, akhirnya diasingkan ke Jawa pada tanggal 3 Februari Rakyat Banjar memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Pangeran Antasari dengan mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin pada tanggal 14 Maret Perlawanan diteruskan bersama-sama pemimpin yang lain, seperti Pangeran Miradipa, Tumenggung Mancanegara, Tumenggung Surapati dan Gusti Umar. Pertahanan pasukan Pangeran Antasari ditempatkan di Hulu Teweh. Pada akhir 1860, kedudukan pasukan Pangeran Antasari semakin terjepit dan melakukan perang gerilya. Ketika wabah penyakit melanda daerah pedalaman, di di Kampung Bayam Bengkok inilah Pangeran Antasari meninggal dunia pada tanggal 11 Oktober Akan tetapi, perlawanan terhadap Belanda tetap dilanjutkan oleh putranya Pangeran Muhammad Seman dan adiknya, Muhammad Said. Perjuangan dilanjutkan oleh putrinya yang bernama Sulaiha. Perlawanan rakyat Banjar terus berlangsung dipimpin oleh putera Pangeran Antasari, Pangeran Muhamad Seman bersama pejuang-pejuang Banjar lainnya. 

3. Perang Diponegoro

        Perang Diponegoro atau bisa disebut juga Perang Jawa merupakan perang besar yang pernah terjadi di Nusantara antara penjajah Belanda dan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Belanda menyebut perang ini sebagai Perang Jawa karena terjadi di Tanah Jawa, khususnya Yogyakarta. Sedangkan, di Indonesia kita lebih akrab dengan sebutan Perang Diponegoro, karena Diponegoro merupakan tokoh sentral dalam perang ini. Perang Diponegoro yang terjadi selama lima tahun telah menelan korban tewas di pihak tentara Belanda sebanyak orang (8.000 orang tentara Eropa dan orang pribumi), sedangkan di pihak Diponegoro sedikitnya orang tewas. Selain melawan Belanda, perang ini juga merupakan perang (sesama) saudara antara orang-orang keraton yang berpihak pada Diponegoro dan yang anti- Diponegoro (antek Belanda). Perang Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur tangan Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya. Dipimpin Pangeran Diponegoro, rakyat Tegalrejo menyatakan perang melawan Belanda Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat, Pangeran Ngabehi Jayakusuma sebagai panglima, dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja sebagai panglima perang.

        Pangeran Diponegoro menyusun barisan dengan nama Perlawanan Rakyat terhadap penjajah. Dalam barisan ini, perlawanan difokuskan pada gerakan rakyat agar perjuangannya bersifat meluas dan lama. Bentuk perlawanan ini dipilih Diponegoro untuk menghindari tuduhan Belanda bahwa ia hanya ingin merebut kekuasaan, meski akhirnya tuduhan tersebut tetap dilanyangkan kepadanya. Dalam perjuangan tersebut, Diponegoro menggunakan langkah jitu. Yakni dengan menyerukan kepada rakyat Mataram untuk berjuang bersama-sama dalam menentang Koloni yang dengan jelas menindas rakyat. Seruan kemudian disebarluaskan di seluruh tanah Mataram, khususnya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar lapisan masyarakat.

        Akhirnya, daerah Selarong penuh sesak karena dipenuhi oleh pasukan rakyat. Perang untuk menentang penguasa kolonial Belanda meledak dan membakar hampir seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Akhirnya, peperangan pun tidak dapat dihindarkan. Pasukan belanda kewalahan menghadapi pasukan Diponegoro selama bertahun-tahun lamanya. Dalam beberapa pertempuran, pasukan Belanda selalu kalah. Hal ini membuat pasukan Belanda dari Madura dan daerah-daerah lain berdatangan untuk membantu pasukan di Yogyakarta yang sedang terserang. Akibatnya, pasukan Diponegoro banyak yang menderita kekalahan dan gugur di medan perang. Pangeran Diponegoro juga didukung oleh para ulama dan bangsawan. Daerah-daerah lain di Jawa ikut berjuang melawan Belanda. Kyai Mojo dari Surakarta mengobarkan Perang Sabil. Antara tahun pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda. Dalam menangani perlawanan Diponegoro tersebut, lagi-lagi Belanda menggunakan siasat yang licik. Pada tahun 1827, Belanda mendatangkan bantuan dari Sumatra dan Sulawesi. Jenderal De Kock menerapkan taktik perang benteng stelsel. Taktik ini berhasil mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Banyak pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro gugur dan tertangkap. Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap gigih. Akhirnya, Belanda mengajak berunding. Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret 1830 di Magelang, Diponegoro disergap. Pada posisi tidak siap perang, pangeran Diponegoro serta pengawalnya dengan mudahnya di sergap, dilucuti dan dimasukkan ke dalam kendaraan khusus residen. Kendaraan ini sudah terlebih dahulu disiapkan oleh pihak Belanda. Dengan pengawalan yang ketat, pasukan Belanda kemudian membawa pangeran Diponegoro menuju Ungaran. Diponegoro kemudian akan dibawa ke Batavia, sebelum itu dia dibawa terlebih dahulu ke kota Semarang. Tepat pada tanggal 3 Mei tahun 1830, pangeran Diponegoro dan stafnya dibawa ke daerah pembuangan, yaitu di Menado. Pangeran Diponegoro beserta 19 orang termasuk keluarga dan stafnya juga ikut dibuang. Kemudian pada tahun 1834 pangeran Diponegoro dan yang lainnya berpindah ke daerah pembuangan lain, yaitu Makassar. Setelah menjalani masa tawanan selama 25 tahun, Pangeran Diponegoro kemudian meninggal pada tanggal 8 Januari tahun 1855 tepatnya saat berusia 70 tahun.

 2. Perang Padri

Dilatarbelakangi oleh perselisihan antara kaum adat dan kaum Padri di Minangkabau. Kaum Padri sendiri merupakan sekolompok ulama yang baru kembali dari Timur Tengah dan kembali untuk memurnikan ajaran Islam di daerah Minangkabau. Peran ini didasari oleh konflik antara kaum adat dan kaum padri mengenai masalah penerapan syariat di Tanah Minang. Kaum Padri berusaha untuk menghilangkan unsur adat karena tidak sesuai dengan ajaran Islam, Unsur Adat tersebut antara lain kebiasaan seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Kaum Padri ini sendiri yang melakukan hal tersebut merupakan suatu aliran dalam Islam. Kaum Padri sendiri beraliran Islam Wahabi (Fundamentalis). Terjadilah bentrokan- bentrokan antara keduanya. Karena terdesak, kaum adat minta bantuan kepada Belanda. Belanda bersedia membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau. Pasukan Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh Tuanku Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan pasukan Belanda. Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding. Tanggal 22 Januari 1824 diadakan perjanjian Mosang dengan kaum Padri, namun kemudian dilanggar oleh Belanda.

Tanggal 15 November 1825 diadakan perjanjian Padang. Kaum Padri diwakili oleh Tuanku Nan Renceh dan Tuanku Pasaman. Seorang Arab, Said Salimuljafrid bertindak sebagai perantara. Pada hakikatnya berulang-ulang Belanda mengadakan perjanjian itu dilatarbelakangi kekuatannya yang tidak mampu menghadapi serangan kaum Padri, di samping itu bantuan dari Jawa tidak dapat diharapkan, karena di Jawa sedang pecah Perang Diponegoro. Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing, Tapanuli. Di Natal, Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada kaum Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana. Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang Maret Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol. Sejak itu kampung demi kampung dapat direbut Belanda. Tahun 1932 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo. Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda.

    Melihat kenyataan ini baik kaum Adat maupun kaum Padri menyadari arti pentingnya pertahanan. Maka bersatulah mereka bersama-sama menghadapi penjajah Belanda. Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan langsung ke benteng Bonjol. Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain. Perundingan perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar benteng. Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.