:::: MENU ::::
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

 Perjuangan dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia tidaklah mudah, mengingat bangsa ini memiliki wilayah yang luas dan terdiri dari banyak suku, bahasa, dan budaya. Namun, perjuangan pergerakan yang dilakukan oleh banyak tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa telah membuat Indonesia terbebas dari penjajahan hingga kini. Kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan tokoh persatuan Indonesia atau biasa dikenal pahlawan kemerdekaan dalam mengusir penjajah dari nusantara. Ada beberapa tokoh persatuan Indonesia khususnya dari daerah yang dapat menjadi teladan terhadap perjuangan bangsa Indonesia, antara lain :

Pahlawan Nasional dari Papua

Papua adalah wilayah Indonesia yang bahkan setelah Indonesia merdeka masih dikuasai dan diklaim oleh Belanda. Hal ini sendiri berkaitan erat dengan hasil dari Konfrensi Meja Bundar (KMB) yang menyatakan bahwa untuk kasus Papua akan dibicarakan oleh RI dan Belanda satu tahun kemudian. Namun nyatanya hal itu tidak terjadi dan terpaksa Indonesia harus menempuh jalan militer guna mendapatkan Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Frans Kaisiepo (1921-1979
Beliau merupakan tokoh yang tergabung dalam Partai Indonesia Merdeka dan berperan dalam mempopulerkan lagu Indonesia Raya di Papua. Kaisiepo ikut berperan dalam pemberontakan masyarakat Biak terhadap kolonialisme Belanda. Ia juga berperan dalam membantu tentara Trikora dalam penyerbuan perebutan Irian dari tangan Belanda.

Silas Papare (1918-1978)
Silas papare adalah tokoh yang menjadi pelopor dari Komite Indonesia Merdeka yang terbentuk guna menggalang kekuatan dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Marthen Indey (1912-1986)
Marthen Indey merupakan seorang polisi Hindia Belanda yang tetap memiliki jiwa semangat kemerdekaan meskipun bekerja untuk Hindia Belanda. Ia menjabat sebagai ketua Partai Indonesia Merdeka yang bertujuan untuk menggalang kekuatan guna melakukan pemberontakan terhadap Hindia Belanda.


Tokoh Yang Berkorban Untuk Bangsa

Sultan Hamengkubuwono IX
Ketika Indonesia merdeka masih terdapat beberapa kerajaan yang berdiri secara berdaulat salah satunya Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Bahkan, mereka rela bergabung dan menjadi bagian dari Indonesia. Sejak awal kemerdekaan Kesultanan Yogyakarta memberikan fasilitas guna menunjang pemerintah RI dalam menjalankan pemerintahannya. Hal ini menunjukan bawa Sultan Hamengkubuwono IX merupakan sosok yang berpikir dan bertindak bijaksana dalam keutuhan.

Ismail Marzuki (1914-1958)
Beliau merupakan seorang sastrawan seni Indonesia. Lagu-lagu karyanya bernuansa perjuangan dan menggugah rasa cinta terhadap tanah air dengan ciri khas menceritakan peristiwa penting pada saat lagu dibuat. Adapun lagunya seperti Rayuan Pulau Kelapa, Halo-halo Bandung, Selendang Sutera, dan Sepasang Mata Bola.

Opu Daeng Risaju
Opu Daeng Risaju adalah seorang tokoh perempuan yang menjadi pelopor gerakan Partai Sarikat Islam yang sangat menentang adanya penjajahan dan kolonialisme yang dilakukan Belanda terhadap bangsa Indonesia. Ia aktif dalam mengikuti kegiatan dan perkembangan PSII baik dipusat maupun daerah, sehingga membuat tetua adat yang pro Belanda menjatuhinya hukuman dibuang karena dianggap melanggar hukum adat dengan melakukan aktivitas politik.

 


A. Berbagai Pergolakan di Dalam Negeri (1948-1965)

1. Peristiwa konflik dan pergolakan tentang Ideologi.
Termasuk dalam kategori ini adalah pemberontakan PKI Madiun, pemberontakan DI/TII dan peristiwa G30S/PKI. Ideologi yang diusung oleh PKI tentu saja komunisme, sedangkan pemberontakan DI/TII berlangsung dengan membawa ideologi agama.Perlu kalian ketahui bahwa menurut Herbert Feith, seorang akademisi Australia, aliran politik besar yang terdapat di Indonesia pada masa setelah kemerdekaan (terutama dapat dilihat sejak Pemilu 1955) terbagi dalam lima kelompok : nasionalisme radikal (diwakili antara lain oleh PNI), Islam (NU dan Masyumi), komunis (PKI), sosialisme demokrat (Partai Sosialis Indonesia). Pada masa itu kelompok- kelompok tersebut nyatanya memang saling bersaing dengan mengusung ideologi masing-masing.

2. Peristiwa konflik dan pergolakan tentang Kepentingan (Vested Interest).
Termasuk dalam kategori ini adalah pemberontakan APRA, RMS dan Andi Aziz.Vested Interest merupakan kepentingan yang tertanam dengan kuat pada suatu kelompok. Kelompok ini biasanya berusaha untuk mengontrol suatu sistem sosial atau kegiatan untuk keuntungan sendiri. Mereka juga sukar untuk mau melepas posisi atau kedudukannya sehingga sering menghalangi suatu proses perubahan. Baik APRA, RMS dan peristiwa Andi Aziz, semuanya berhubungan dengan keberadaan pasukan KNIL atau Tentara Kerajaan (di) Hindia Belanda, yang tidak mau menerima kedatangan tentara Indonesia di wilayah-wilayah yang sebelumnya mereka kuasai. Dalam situasi seperti ini

3. Peristiwa konflik dan pergolakan tentang Sistem Pemerintahan.
Termasuk dalam kategori ini adalah persoalan negara federal dan BFO (Bijeenkomst Federal Overleg), serta pemberontakan PRRI dan Permesta. Masalah yang berhubungan dengan negara federal mulai timbul ketika berdasarkan perjanjian Linggajati, Indonesia disepakati akan berbentuk negara serikat/federal dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). RI menjadi bagian RIS. Negara-negara federal lainnya misalnya adalah negara Pasundan, negara Madura atau Negara Indonesia Timur. BFO sendiri adalah badan musyawarah negara-negara federal di luar RI, yang dibentuk oleh Belanda. Awalnya, BFO berada di bawah kendali Belanda. Namun makin lama badan ini makin bertindak netral, tidak lagi melulu memihak Belanda. Pro-kontra tentang negara-negara federal inilah yang kerap juga menimbulkan pertentangan. Sedangkan pemberontakan PRRI dan Permesta merupakan pemberontakan yang terjadi akibat adanya ketidakpuasan beberapa daerah di wilayah Indonesia terhadap pemerintahan pusat.

A. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

        Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Lalu seperti apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi?                                                        Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2.Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

3.Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4.Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlumenggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

5.Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.


B. Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:

1.KESIAPAN BELAJAR (READINESS)

        Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Kesiapan Belajar”?
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.

2.MINAT MURID

        Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minatnya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak, dsb. Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:
• Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
• Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
• Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
• Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.

        Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan minat diantaranya misalnya:
•Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari atau bentuk lain sesuai minat mereka.
•Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.
•Menggutakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.
•Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.
•Membuat model.

3.PROFIL BELAJAR MURID

        Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain.
        Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil. Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:
•Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
•Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
•Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).
•Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
•Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).

        Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.


















        Percaya enggak sih untuk menghilangkan suatu bangsa pihak musuh enggak perlu melakukan serangan militer, tapi cukup menghilangkan masa lalunya, yakni sejarah bangsanya. Maka tak heran Bung Karno menyerukan “Jas Merah” atau “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Ngomongin sejarah Indonesia, tak akan lengkap bila tak mengulik bagaimana setelah Proklamasi, negara-negara lain mengakui Indonesia sebagai sebuah negara merdeka.

Pengakuan Kemerdekaan RI dari Berbagai Negara

Syarat Sah Berdirinya Negara:

        a) memiliki wilayah yang berdaulat

        b) terdapat rakyat yang mendiami wilayah

        c) memiliki pemerintah dan pemerintahan

        d) memiliki undang-undang

        e) pengakuan kedaulatan atau kemerdekaan oleh negara lain baik secara de facto maupun de jure.

1. MESIR

        Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 22 Maret 1946.Pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia juga tidak terlepas dari keberadaan organisasi Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh Hasan Al-Banna dengan menjunjung Pan-Islamisme yang menentang belenggu kolonialisme Barat di negara-negara Islam. Gerakan Ikhwanul Muslimin berupaya menarik atensi pemerintah dan masyarakat Mesir untuk mendukung kemerdekaan Indonesia yang terealisasi melalui Liga Arab.

        Melalui forum Liga Arab, Mesir berhasil meyakinkan Suriah, Qatar, Irak, dan Arab Saudi untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dalam sidang majelis yang digelar pada tanggal 18 November 1946, yang menyebabkan Liga Arab memberikan pengakuan secara resmi terhadap kemerdekaan Indonesia.Dukungan pemerintah Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia kembali diwujudkan dengan mengutus diplomatnya yang bernama Mohammad Abdul Mun’im berkunjung ke Indonesia pada 13-16 Maret 1947 untuk menyerahkan surat resmi yang berisi dukungan negara-negara Liga Arab terhadap kemerdekaan Indonesia kepada Presiden Soekarno.

        Pada 10 April 1947 Presiden Soekarno mengutus beberapa diplomat seperti H. Agus Salim, A.R. Baswedan, Nadzir D. Pamoentjak, dan Rasjidi untuk mengemban misi kunjungan balasan ke Mesir.Kunjungan diplomatik Indonesia ke Mesir tersebut mendapat pertentangan dari Belanda. Akan tetapi, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir justru semakin terus terjalin melalui misi diplomatik lanjutan pada 26 April 1947. Diplomasi yang diwakili oleh Sutan Sjahrir dan H. Agus Salim tersebut berlangsung cukup intens dengan sejumlah pejabat tinggi Mesir. Salah satu keputusan penting dalam pertemuan tersebut adalah rencana pemerintah Mesir dan Liga Arab untuk memberikan pengakuan secara de jure terhadap kemerdekaan Indonesia.

2. INDIA

Upaya Diplomasi Beras

        Untuk membuka blokade Belanda, pemerintah Indonesia yang pada saat itu di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sutan Sjahrir berhasil memanfaatkan momentum yang tepat. India sebagai negara jajahan Inggris tengah terancam bencana kelaparan. Sementara, Indonesia pada tahun 1946 diperkirakan mengalami surplus beras sebanyak 200.000-500.000 ton. Sebagai imbalannya, pemerintah Indonesia meminta bantuan beras tersebut ditukar dengan tekstil dan obat-obatan. Upaya diplomasi yang dilakukan Sutan Sjahrir dengan India tersebut kemudian dikenal dengan istilah Diplomasi Beras. Beras-beras pun kemudian diangkut ke pelabuhan yang dikuasai Sekutu (Inggris). Sir Pandhit Jawaharlal Nehru sebagai tokoh pejuang kemerdekaan India, menyambut uluran tangan Sutan Sjahrir sehingga kapal-kapal India mulai datang ke Jawa untuk mengangkut beras tersebut. Pemberian bantuan beras ke India menjadi awal hubungan bilateral modern antara Indonesia dan India.

        Respon positif India atas kemerdekaan Indonesia kembali ditunjukkan ketika Perdana Menteri Jawaharlal Nehru menggagas penyelenggaraan Konferensi Asia (Asia Conference) pada 20-23 Januari 1949. Konferensi yang dilaksanakan di Kota New Delhi tersebut dihadiri oleh 21 negara Asia yang sebagian besar masih dijajah oleh bangsa Barat.

Konferensi Asia menghasilkan 4 (empat) tuntutan yaitu:

a) mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta

b) membentuk pemeintahan ad interim di Indonesia agar memiliki kekuatan politik di dalam atau luar negeri paling lambat pada 15 Maret 1949

c) menarik seluruh militer Belanda dari wilayah Indonesia

d) Belanda harus menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia paling lambat pada 1 Januari 1950.


3. Australia

        Aksi dukungan Australia terhadap Indonesia menguat ketika Waterside Workers Federation (WWF) bergabung dengan Australian Seamen’s Union in Sydney melakukan aksi mogok kerja dan memblokir pelabuhan tempat perusahaan Belanda beroperasi pada 24 September 1945. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Black Ban yang menyebabkan Belanda tidak dapat menirim logistik militernya ke Indonesia, setelah melancarkan aksi mogok kerja, Waterside Workers Federation (WWF) dan Australian Seamen’s Union in Sydney mengadakan rapat publik serta acara amal untuk membantu para pelaut Indonesia. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I, Australia menjadi salah satu negara yang mengancam Agresi Militer Belanda tersebut. Dengan cepat pemerintah Australia membawa kasus Agresi Militer Belanda I pada sidang Dewan Keamanan PBB. Australia mengajukan permintaan resmi kepaa PBB agar pertikaian antara RI-Belanda dibahas dalam Sidang Dewan Keamanan PBB. PBB pun memutuskan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mengawasi jalannya penghentian kontak senjata tersebut. Indonesia memilih Australia sebagai anggota komisi yang dibentuk oleh PBB tersebut yang diwakili oleh Richard Justice Kirby dan Thomas Critchley dalam perundingan Renville.

4. Lebanon 

        Lebanon merupakan salah satu negara awal yang mengakui eksistensi Republik Indonesia. Hubungan antara Indonesia dan Lebanon bermula dari diumumkannya pengakuan secara de jure atas kemerdekaan Indonesia pada 29 Juli 1947. Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Lebanon, Bechara El-Khoury.

5. Syiria (Suriah) 

        Pada tahun 1947 perwakilai Suriah di PBB yang bernama Faris Al-Khouri mendorong Dewan Keamanan PBB mendiskusikan Agresi Militer Belanda I di Indonesia dan mengajak negara-negara lain untuk bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia

6. Vatikan 

        Vatikan merupakan salah satu negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Vatikan memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada tanggal 6 Juli1947. Pengakuan Vatikan atas kedaulatan Indonesia ditandai dengan pembukuan kedutaan Vatikan bernama Apostolic Delegate di Jakarta. Melalui kedutaan tersebut, Vatikan menugaskan Geores Marie Joseph sebagai perwakilan resmi Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia dengan masa kerja 1947-1955. Pengakuan Vatikan terhadap kemerdekaan Indonesia dipandang cukup penting karena negara ini memiliki pengaruh kuat di Benua Eropa dan Amerika. Vatikan merupakan entitas suci yang menjadi rujukan seluruh umat Katolik di dunia.





Integrasi suatu bangsa  adalah hal yang sangat  penting  dalam kehidupan  berbangsa  dan  bernegara.  Dengan   adanya   integrasi akan  melahirkan  satu  kekuatan bangsa  yang  ampuh  dan  segala persoalan   yang   timbul   dapat   dihadapi   bersama-sama.   Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah wujud konkret dari proses integrasi  bangsa. Proses  integrasi  bangsa   Indonesia  ini ternyata sudah  berlangsung cukup  lama bahkan  sudah  dimulai sejak awal tarikh masehi.  Pada abad  ke-16  proses  integrasi  bangsa  Indonesia mulai  menonjol.   Masa  itu  adalah  masa-masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

1.      Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi

Agama  Islam yang  masuk  dan  berkembang  di  Nusantara mengajarkan kebersamaan dan  mengembangkan toleransi  dalam kehidupan beragama.  Islam  mengajarkan persamaan  dan  tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat.  Konsep ajaran Islam memunculkan perilaku  ke  arah  persatuan dan  persamaan derajat. Disisi lain, datangnya pedagang-pedagang Islam di Indonesia mendorong berkembangnya tempat-tempat perdagangan di daerah pantai.  Tempat-tempat perdagangan itu kemudian  berkembang menjadi pelabuhan dan kota-kota pantai.  Bahkan kota-kota pantai yang merupakan bandar  dan pusat perdagangan, berkembang menjadi   kerajaan.   Timbulnya  kerajaan-kerajaan  Islam  menandai awal terjadinya proses integrasi. Meskipun masing-masing kerajaan memiliki cara  dan  faktor  pendukung yang  berbeda-beda  dalam proses integrasinya.

2.      Peran Perdagangan Antarpulau

Proses integrasi  juga terlihat  melalui kegiatan  pelayaran  dan perdagangan antarpulau. Sejak zaman kuno, kegiatan pelayaran dan perdagangan sudah berlangsung di Kepulauan Indonesia. Pelayaran dan perdagangan itu berlangsung dari daerah  yang satu ke daerah yang lain, bahkan antara negara yang satu dengan negara yang lain. Kegiatan pelayaran dan perdagangan pada  umumnya  berlangsung dalam  waktu   yang  lama.  Hal  ini,  menimbulkan pergaulan dan hubungan kebudayaan antara  para  pedagang dengan penduduk setempat. Kegiatan semacam  ini mendorong terjadinya proses integrasi.

Pada  mulanya  penduduk di suatu  pulau  cukup  memenuhi kebutuhan hidupnya dengan apa yang ada di pulau tersebut. Dalam perkembangannya,  mereka   ingin   mendapatkan  barang-barang yang terdapat di pulau lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, terjadilah  hubungan dagang antar  pulau.  Angkutan  yang  paling murah   dan  mudah   adalah   angkutan  laut  (kapal/perahu), maka berkembanglah pelayaran  dan  perdagangan. Terjadinya pelayaran dan perdagangan antarpulau di Indonesia yang diikuti pengaruh di bidang  budaya  turut  berperan serta  mempercepat perkembangan proses integrasi.  Misalnya, para pedagang dari Jawa berdagang ke Palembang,  atau para pedagang dari Sumatra berdagang ke Jepara. Hal ini menyebabkan terjadinya  proses  integrasi  antara   Sumatra dan  Jawa. Para pedagang di Banjarmasin berdagang ke Makassar, atau   sebaliknya.   Hal  ini  menyebabkan  terjadi   proses   integrasi antara masyarakat Banjarmasin (Kalimantan) dengan masyarakat Makassar  (Sulawesi). Para pedagang Makassar  dan  Bugis memiliki peranan penting  dalam proses integrasi. Mereka berlayar hampir ke seluruh Kepulauan Indonesia bahkan  jauh sampai keluar Kepulauan Indonesia.

Pulau-pulau  penting  di Indonesia,  pada  umumnya  memiliki pusat-pusat  perdagangan.  Sebagai  contoh   di  Sumatra   terdapat Aceh, Pasai, Barus, dan Palembang.  Jawa memiliki beberapa pusatperdagangan misalnya Banten Sunda Kelapa, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Blambangan. Kemudian di dekat Sumatra ada bandar Malaka.   Malaka  berkembang  sebagai   bandar   terbesar   di  Asia Tenggara. Tahun 1511  Malaka jatuh ke tangan Portugis. Akibatnya perdagangan Nusantara  berpindah ke Aceh. Dalam waktu  singkat Aceh berkembang sebagai bandar  dan sebuah  kerajaan yang besar. Para pedagang dari pulau-pulau lain di Indonesia juga datang dan berdagang di Aceh.

Sementara itu, sejak awal  abad  ke-16  di Jawa berkembang Kerajaan Demak dan beberapa bandar  sebagai pusat perdagangan. Di  Indonesia   bagian   tengah  maupun  timur   juga   berkembang kerajaan  dan  pusat-pusat perdagangan. Dengan  demikian,  terjadi hubungan dagang antardaerah dan antarpulau. Kegiatan  perdagangan antarpulau mendorong      terjadinya       proses       integrasi yang    terhubung   melalui    para    pedagang. Proses integrasi itu juga diperkuat dengan berkembangnya hubungan kebudayaan. Bahkan juga ada yang diikuti dengan perkawinan.

 3.      Peran Bahasa

Perlu juga kamu  pahami  bahwa  bahasa  juga memiliki peran yang strategis dalam proses integrasi. Kamu tahu bahwa  Kepulauan Indonesia  terdiri  atas  beribu-ribu  pulau  yang  dihuni  oleh  aneka ragam suku bangsa. Tiap-tiap suku bangsa  memiliki bahasa  masing- masing.  Untuk mempermudah komunikasi antarsuku bangsa, diperlukan  satu  bahasa  yang menjadi  bahasa  perantara dan  dapat dimengerti  oleh semua  suku bangsa. Jika tidak memiliki kesamaan bahasa,  persatuan tidak terjadi karena di antara  suku bangsa  timbul kecurigaan  dan prasangka lain.

Bahasa  merupakan sarana  pergaulan. Bahasa  Melayu digunakan hampir  di semua  pelabuhan-pelabuhan di Kepulauan Nusantara.  Bahasa   Melayu  sejak  zaman   kuno   sudah   menjadi bahasa  resmi negara  Melayu (Jambi). Pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, bahasa  Melayu dijadikan bahasa  resmi dan  bahasa  ilmu pengetahuan. Hal ini dapat  dilihat dalam  Prasasti Kedukan  Bukit tahun  683 M, Prasasti Talang Tuo tahun  684 M, Prasasti Kota Kapur tahun  685 M, dan Prasasti Karang Berahi tahun  686 M. Para pedagang di daerah-daerah sebelah timur Nusantara, juga menggunakan bahasa  Melayu sebagai  bahasa  pengantar. Dengan demikian,  berkembanglah bahasa   Melayu  ke  seluruh  Kepulauan Nusantara. Pada mulanya bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa dagang. Akan tetapi  lambat  laun bahasa  Melayu tumbuh menjadi bahasa  perantara dan  menjadi  lingua franca di seluruh Kepulauan Nusantara. Di Semenanjung Malaka  (Malaysia seberang),   pantai timur Pulau Sumatra,  pantai  barat  Pulau Sumatra,  Kepulauan  Riau, dan  pantai-pantai  Kalimantan,  penduduk menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa  pergaulan.

Masuk dan berkembangnya agama  Islam, mendorong perkembangan  bahasa   Melayu.  Buku-buku  agama   dan  tafsir  al Qur’an  juga  mempergunakan bahasa   Melayu.  Ketika menguasai Malaka, Portugis mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa  Portugis,  namun  kurang  berhasil.  Pada  tahun  1641  VOC merebut   Malaka   dan    kemudian    mendirikan    sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa  Melayu. Jadi, secara  tidak sengaja, kedatangan VOC mengembangkan bahasa  Melayu.

 

Berkembangnya kebudayaan  Islam di Kepulauan  Indonesia telah  menambah khasanah budaya  nasional  Indonesia,  serta  ikut memberikan  dan menentukan corak kebudayaan bangsa  Indonesia. Akan  tetapi  karena  kebudayaan yang  berkembang di  Indonesia sudah begitu kuat di lingkungan  masyarakat  maka berkembangnya kebudayaan Islam tidak menggantikan atau  memusnahkan kebudayaan yang  sudah  ada.  Dengan  demikian  terjadi  akulturasi antara  kebudayaan Islam dengan kebudayaan yang sudah ada. Hasil proses  akulturasi  antara  kebudayaan pra-Islam dengan ketika Islam masuk  tidak hanya  berbentuk fisik kebendaan seperti seni bangunan, seni ukir atau  pahat,  dan  karya sastra  tetapi  juga menyangkut pola hidup dan kebudayaan non fisik lainnya. Beberapa contoh  bentuk  akulturasi akan ditunjukkan  pada paparan berikut.

1. Seni Bangunan

a.  Masjid dan Menara

            Dalam    seni    bangunan   di   zaman    perkembangan Islam, nampak   ada  perpaduan antara   unsur  Islam dengan kebudayaan praIslam yang  telah  ada.  Seni bangunan Islam yang  menonjol   adalah   masjid.  Fungsi  utama   dari  masjid, adalah tempat beribadah bagi orang Islam. Masjid atau mesjid dalam bahasa  Arab mungkin berasal dari bahasa  Aramik atau bentuk  bebas dari perkataan sajada yang artinya merebahkan diri untuk bersujud. Dalam bahasa Ethiopia terdapat perkataan mesgad   yang  dapat   diartikan  dengan kuil  atau  gereja.  Di antara  dua  pengertian tersebut yang mungkin  primair ialah tempat orang  merebahkan diri untuk  bersujud  ketika  salat atau sembahyang. Pengertian    tersebut  dapat    dikaitkan   dengan   salah satu    hadis    sahih    al-Bukhârî   yang   menyatakan  bahwa “Bumi ini dijadikan  bagiku  untuk  masjid (tempat  salat) dan alat  pensucian   (buat  tayamum)  dan  di  tempat mana   saja seseorang dari umatku  mendapat waktu  salat, maka salatlah di  situ.”  Jika pengertian tersebut  dapat   dibenarkan dapat pula diambil asumsi bahwa  ternyata  agama  Islam telah memberikan  pengertian perkataan masjid atau mesjid itu bersifat universal.

Di Indonesia  sebutan masjid  serta  bangunan tempat peribadatan lainnya ada bermacam-macam sesuai dan tergantung   kepada    masyarakat    dan    bahasa    setempat. Sebutan   masjid,  dalam  bahasa   Jawa  lazim  disebut  mesjid, dalam  bahasa   Sunda  disebut  masigit,  dalam  bahasa   Aceh disebut meuseugit, dalam bahasa  Makassar dan Bugis disebut masigi. Bangunan   masjid-masjid  kuno  di  Indonesia  memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Atapnya berupa  atap  tumpang, yaitu atap  yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil dan tingkat yang paling atas berbentuk limas. Jumlah  tumpang biasanya  selalu gasal/ ganjil, ada  yang tiga, ada  juga yang lima. Ada pula yang tumpangnya dua, tetapi yang ini dinamakan tumpang satu, jadi angka  gasal juga. Atap yang demikian disebut  meru. Atap masjid biasanya masih diberi lagi sebuah  kemuncak/ puncak yang dinamakan mustaka.

2) Tidak ada menara yang berfungsi  sebagai tempat mengumandangkan adzan.  Berbeda  dengan masjid- masjid di luar Indonesia yang umumnya  terdapat menara. Pada masjid-masjid kuno di Indonesia untuk menandai datangnya  waktu   salat  dengan memukul  bedhug atau kenthongan. Yang istimewa dari Masjid Kudus dan Masjid Banten  adalah  menaranya yang  bentuknya begitu  unik. bentuk   menara   Masjid Kudus  merupakan sebuah   candi langgam  Jawa  Timur yang  telah  diubah  dan  disesuaikan penggunaannya  dengan   diberi   atap    tumpang.   Pada Masjid Banten,  menara  tambahannya dibuat  menyerupai mercusuar.

3) Masjid umumnya  didirikan di ibu kota  atau  dekat  istana kerajaan. Ada juga masjid-masjid yang dipandang keramat yang dibangun di atas  bukit atau  dekat  makam.  Masjid- masjid di zaman Wali Sanga umumnya  berdekatan dengan makam.

b. Makam

Bangunan   makam  muncul  saat  perkembangan Islam pada  periode  perkembangan kerajaan  Islam. Bahkan  kalau yang meninggal itu orang terhormat wali atau raja, bangunan makamnya   nampak   begitu   megah   bahkan   ada  bangunan semacam  rumah yang disebut cungkup.  Kemudian kalau kita perhatikan letak makam orang-orang yang dianggap suci biasanya  berada  di dekat  masjid di dataran rendah  dan  ada pula di dataran tinggi atau di atas bukit. Di samping  bangunan makam,  terdapat tradisi pemakaman yang sebenarnya bukan berasal dari ajaran Islam. Misalnya, jenazah  dimasukkan  ke  dalam  peti.  Pada  zaman kuno  ada  peti batu,  kubur  batu  dan  lainnya. Sering pula di atas kubur diletakkan bunga-bunga. Pada hari ke-3, ke-7, ke- 40, ke-100,  satu  tahun,  dua  tahun,  dan  1000  hari diadakan selamatan. Saji-sajian dan selamatan adalah  unsur pengaruh kebudayaan praIslam,  tetapi  doa-doanya secara  Islam. Hal ini jelas menunjukkan perpaduan. Sesudah  upacara  terakhir (seribu hari) selesai, barulah kuburan  diabadikan,  artinya diperkuat  dengan bangunan dan batu.  Bangunan  ini disebut jirat atau  kijing. Nisannya diganti dengan nisan batu.  Di atas jirat sering  didirikan  semacam  rumah  yang  di atas  disebut cungkup.

2. Seni Ukir

            Pada masa perkembangan Islam di zaman  madya, berkembang     ajaran      bahwa seni ukir, patung, dan melukis makhluk hidup, apalagi manusia secara nyata, tidak diperbolehkan.Hal ini menyebabkan seni patung di Indonesia pada zaman madya, kurang  berkembang.  Padahal pada masa sebelumnya  seni patung sangat berkembang, baik patung-patung bentuk   manusia  maupun  binatang. Akan  tetapi, sesudah zaman madya, seni patung berkembang seperti yang dapat kita saksikan sekarang  ini. Walaupun   seni   patung  untuk   menggambarkan   makhluk hidup  secara  nyata  tidak  diperbolehkan. Akan tetapi,  seni  pahat atau  seni  ukir terus  berkembang. Para  seniman  tidak  ragu-ragu mengembangkan seni hias dan seni ukir dengan motif daun-daunan dan bunga-bungaan seperti yang telah dikembangkan sebelumnya. Kemudian  juga  ditambah seni hias dengan huruf  Arab (kaligrafi). Bahkan muncul  kreasi baru,  yaitu kalau terpaksa  ingin melukiskan makluk  hidup,  akan  disamar  dengan berbagai   hiasan,  sehingga tidak lagi jelas-jelas berwujud  binatang atau manusia. Banyak sekali bangunan-bangunan Islam yang dihiasi dengan berbagai  motif  ukir-ukiran.  Misalnya, ukir-ukiran  pada  pintu  atau tiang  pada  bangunan keraton  ataupun masjid, pada  gapura  atau pintu gerbang. Dikembangkan juga seni hias atau  seni ukir dengan bentuk  tulisan Arab yang dicampur  dengan ragam  hias yang lain. Bahkan ada  seni kaligrafi yang membentuk orang,  binatang, atau wayang.

3.  Aksara dan Seni Sastra

            Tersebarnya Islam di Indonesia  membawa pengaruh  dalam bidang  aksara  atau  tulisan.  Abjad atau  huruf-huruf Arab sebagai abjad yang digunakan untuk menulis bahasa  Arab mulai digunakan di Indonesia.  Bahkan  huruf  Arab  digunakan di bidang  seni  ukir. Berkaitan dengan itu berkembang seni kaligrafi. Di samping  pengaruh sastra Islam dan Persia, perkembangan sastra  di zaman  madya  tidak  terlepas  dari pengaruh unsur  sastra sebelumnya. Dengan  demikian  terjadilah  akulturasi  antara  sastra Islam dengan sastra  yang  berkembang di  zaman  praIslam.  Seni sastra  di zaman  Islam terutama berkembang di Melayu dan  Jawa. Dilihat dan corak dan isinya, ada  beberapa jenis seni sastra seperti berikut.

1) Hikayat adalah karya sastra yang berisi cerita sejarah ataupun dongeng. Dalam  hikayat  banyak  ditulis  berbagai   peristiwa yang  menarik,   keajaiban,   atau   hal-hal  yang  tidak  masuk akal. Hikayat ditulis dalam bentuk  gancaran (karangan  bebas atau  prosa). Hikayat-hikayat yang terkenal,  misalnya Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Khaidir, Hikayat si Miskin, Hikayat 1001  Malam, Hikayat Bayan Budiman, dan Hikayat Amir Hamzah

2) Babad mirip dengan hikayat. Penulisan babad  seperti tulisan sejarah, tetapi isinya tidak selalu berdasarkan fakta.Jadi, isinya carapuran  antara   fakta  sejarah,  mitos,  dan  kepercayaan.Di tanah  Melayu terkenal  dengan sebutan tambo  atau  salasilah. Contoh   babad   adalah  Babad  Tanah  Jawi,  Babad  Cirebon, Babad Mataram, dan Babad Surakarta.

3) Syair berasal  dari perkataan Arab untuk  menamakan  karya sastra berupa  sajak-sajak yang terdiri atas empat  baris setiap baitnya.  Contoh  syair sangat  tua  adalah  syair yang  tertulis pada batu  nisan makam putri Pasai di Minye Tujoh.

4) Suluk merupakan karya sastra  yang berupa  kitab-kitab  dan isinya menjelaskan  soal-soal tasawufnya. Contoh  suluk yaitu Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, dan Suluk Malang Sumirang.

4. Kesenian

        Di Indonesia,  Islam menghasilkan kesenian  bernapas Islam yang bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam. Kesenian tersebut, misalnya sebagai berikut.

1) Permainan   debus, yaitu tarian yang pada puncak acara para penari menusukkan benda   tajam  ke  tubuhnya tanpa meninggalkan  luka.  Tarian  ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat dalam Al Quran dan salawat nabi. Tarian ini terdapat di Banten dan Minangkabau.

2) Seudati, sebuah   bentuk   tarian  dari  Aceh.  Seudati  berasal dan kata syaidati yang artinya permainan orang-orang besar. Seudati   sering  disebut   saman   artinya  delapan.  Tarian   ini aslinya dimainkan  oleh  delapan  orang  penari.  Para pemain menyanyikan  lagu yang isinya antara  lain salawat nabi.

3) Wayang, termasuk  wayang kulit, Pertunjukan wayang sudah berkembang sejak  zaman   Hindu,  akan   tetapi,   pada zaman  Islam terus dikembangkan. Kemudian  berdasarkan  cerita  Amir Hamzah dikembangkan pertunjukan wayang golek.

5. Kalender

        Menjelang tahun  ketiga pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab,  beliau berusaha membenahi kalender  Islam. Perhitungan tahun  yang dipakai atas dasar  peredaran bulan (komariyah). Umar menetapkan tahun  1 H bertepatan dengan tanggal  14 September 622 M, sehingga  sekarang  kita mengenal tahun  Hijriyah. Sistem  kalender  itu  juga  berpengaruh di  Nusantara. Bukti perkembangan sistem  penanggalan (kalender)  yang  paling  nyata adalah sistem kalender yang diciptakan oleh Sultan Agung. Ia melakukan  sedikit perubahan, mengenai nama-nama bulan  pada tahun   Saka.  Misalnya bulan  Muharam   diganti  dengan Sura dan Ramadan  diganti  dengan Pasa. Kalender tersebut dimulai tanggal 1 Muharam  tahun  1043  H. Kalender  Sultan  Agung  dimulai tepat dengan tanggal  1 Sura tahun  1555 Jawa (8 Agustus 1633). Masih terdapat beberapa bentuk  lain dan  akulturasi  antara kebudayaan pra-Islam dengan kebudayaan Islam. Misalnya upacara kelahiran perkawinan dan kematian. Masyarakat Jawa juga mengenal berbagai  kegiatan  selamatan dengan bentuk  kenduri.  Selamatan diadakan  pada  waktu  tertentu. Misalnya, selamatan atau  kenduri pada  10  Muharam   untuk  memperingati Hasan-Husen  (putra  Ali bin Abu Thalib), Maulid Nabi (untuk  memperingati kelahiran  Nabi Muhammad), Ruwahan (Nyadran) untuk menghormati para leluhur atau sanak keluarga yang sudah meninggal.


Sumber : Buku Sejarah kelas X


Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kesultanan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatra dan Kalimantan. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.

Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.Setelah itu perkembangan agama Islam di Siak menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat penyebaran dakwah Islam, hal ini tidak lepas dari penggunaan nama Siak secara luas di kawasan Melayu. Jika dikaitkan dengan pepatah Minangkabau yang terkenal: Adat menurun, syara’ mendaki dapat bermakna masuknya Islam ke dataran tinggi pedalaman Minangkabau dari Siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang, masih tetap disebut dengan Orang Siak. Sementara di Semenanjung Malaya, penyebutan Siak masih digunakan sebagai nama jabatan yang berkaitan dengan urusan agama Islam. Walau telah menerapkan hukum Islam pada masyarakatnya, namun sedikit pengaruh Minangkabau dengan identitas matrilinealnyamasih mewarnai tradisi masyarakat Siak. Dalam pembagian warisan, masyarakat Siak mengikut kepada hukum waris sebagaimana berlaku dalam Islam. Namun dalam hal tertentu, mereka menyepakati secara adat bahwa untuk warisan dalam bentuk rumah hanya diserahkan kepada anak perempuan saja.Sebagai bagian dari rantau Minangkabau, sistem pemerintahan Kesultanan Siak mengikuti model Kerajaan Pagaruyung. Setelah posisi Sultan, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Pagaruyung. Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Yang Ampat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan, menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya.

Dewan menteri ini terdiri dari:

Datuk Tanah Datar

Datuk Limapuluh

Datuk Pesisir

Datuk Kampar

        Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga melakukan pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial Belanda dan Inggris. Modernisasi sistem penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta ditulis dengan Abjad Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari berbagai posisi atau jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil kerajaan di daerah jajahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para birokrat tersebut, ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.

Sumber : Wikipedia